Lulusan S1 Banyak Menganggur, 5 Jurusan Ini Sumbang Pengangguran Sarjana Terbesar

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi lulusan jurusan yang sumbang pengangguran terbanyak

Ilustrasi lulusan jurusan yang sumbang pengangguran terbanyak

PENDIDIKAN,JS- Gelar sarjana masih menjadi salah satu modal penting untuk memasuki dunia kerja. Namun, ijazah S1 kini tidak selalu menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi atau posisi sesuai bidang pendidikan.

Data terbaru justru menunjukkan adanya tantangan besar yang harus dihadapi lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Sejumlah bidang studi menyumbang porsi cukup besar terhadap jumlah pengangguran lulusan minimal sarjana.

Temuan tersebut muncul dalam publikasi Labor Market Brief Volume 7: “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?” yang dirilis LPEM FEB UI pada 7 Juli 2026.

Laporan tersebut menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2025 untuk melihat perkembangan pasar tenaga kerja, pengangguran lulusan perguruan tinggi, hingga fenomena overeducated workers atau pekerja yang menjalankan pekerjaan di bawah tingkat pendidikannya.

Jurusan Manajemen Jadi Penyumbang Terbesar Pengangguran Sarjana

Salah satu temuan yang menarik perhatian berkaitan dengan bidang studi yang menyumbang pengangguran lulusan minimal sarjana.

Manajemen menempati posisi teratas dengan kontribusi 10,3 persen dari keseluruhan pengangguran lulusan minimal sarjana di Indonesia.

Angka tersebut menunjukkan bahwa banyaknya peminat jurusan manajemen tidak otomatis membuat seluruh lulusannya mudah memasuki dunia profesional.

Selain manajemen, beberapa jurusan populer lain juga menyumbang persentase cukup besar.

LPEM FEB UI mencatat lulusan hukum menyumbang sekitar 9 persen, sedangkan ekonomi mencapai 8,7 persen.

Kemudian, bidang pendidikan menyumbang 7,1 persen, sementara akuntansi mencapai 5,1 persen.

Jika lima bidang tersebut digabungkan, kontribusinya mencapai sekitar 40 persen dari keseluruhan pengangguran lulusan minimal sarjana.

Kondisi ini tentu menjadi perhatian bagi calon mahasiswa dan orang tua yang sedang mempertimbangkan pilihan jurusan kuliah.

5 Jurusan dengan Kontribusi Pengangguran Sarjana Terbesar

Berikut gambaran lima bidang studi yang mendapat sorotan dalam laporan LPEM FEB UI:

Bidang studi Kontribusi terhadap pengangguran minimal sarjana
Manajemen 10,3%
Hukum 9%
Ekonomi 8,7%
Pendidikan 7,1%
Akuntansi 5,1%

Data tersebut tidak berarti setiap lulusan dari jurusan tersebut akan menganggur.

Sebaliknya, angka tersebut menggambarkan besarnya kontribusi kelompok bidang studi terhadap total pengangguran lulusan minimal sarjana. Jumlah lulusan yang besar dari suatu jurusan juga ikut memengaruhi kontribusi tersebut.

Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya tidak hanya melihat apakah sebuah jurusan populer atau memiliki banyak lowongan pekerjaan.

Faktor lain seperti kualitas kampus, kemampuan praktis, pengalaman magang, sertifikasi, kemampuan komunikasi, penguasaan teknologi, jaringan profesional, dan kebutuhan industri juga ikut menentukan peluang kerja.

Baca Juga :  15 Pekerjaan Terlaris, Calon Mahasiswa Wajib Tahu Jurusannya

Mengapa Banyak Lulusan Manajemen dan Hukum Kesulitan Mendapat Pekerjaan?

LPEM FEB UI menjelaskan bahwa bidang studi dengan jumlah lulusan besar menghadapi persaingan yang lebih ketat.

Manajemen, ekonomi, hukum, dan akuntansi memiliki cakupan karier yang luas. Banyak perguruan tinggi juga membuka program studi tersebut dan menerima mahasiswa dalam jumlah besar.

Situasi itu kemudian menciptakan kompetisi tinggi ketika lulusan masuk ke pasar kerja.

Lulusan bisnis dan hukum, misalnya, sering bersaing dengan lulusan dari berbagai jurusan untuk mendapatkan posisi entry-level.

Perusahaan dapat membuka satu posisi administrasi, pemasaran, penjualan, sumber daya manusia, atau operasional untuk lulusan dari berbagai latar belakang pendidikan.

Akibatnya, gelar S1 saja tidak selalu cukup untuk membuat seorang kandidat unggul.

Perusahaan semakin mempertimbangkan kemampuan yang dapat langsung digunakan dalam pekerjaan.

Jurusan Pendidikan Menghadapi Tantangan Berbeda

Bidang pendidikan memiliki persoalan yang sedikit berbeda.

LPEM FEB UI menilai tingkat pengangguran lulusan pendidikan berkaitan dengan pola rekrutmen dan kebutuhan tenaga guru di setiap daerah.

Artinya, jumlah lulusan tidak selalu sejalan dengan jumlah posisi yang tersedia.

Satu wilayah mungkin membutuhkan banyak guru untuk mata pelajaran tertentu. Namun, wilayah lain bisa menghadapi kondisi berbeda.

Kesenjangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan tenaga pendidik akhirnya dapat memperpanjang waktu pencarian kerja.

Karena itu, calon mahasiswa yang memilih jurusan pendidikan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan tenaga pengajar, lokasi kerja, kompetensi spesifik, serta peluang karier di luar jalur pendidikan formal.

Lulusan Ilmu Komputer Juga Tidak Otomatis Aman

Bidang teknologi selama beberapa tahun terakhir sering masuk dalam daftar jurusan dengan prospek kerja menjanjikan.

Perusahaan digital membutuhkan programmer, software engineer, analis data, spesialis keamanan siber, hingga tenaga profesional yang memahami kecerdasan buatan.

Namun, laporan LPEM FEB UI menunjukkan bahwa ilmu komputer dan informatika tetap menyumbang 4,6 persen dari pengangguran minimal sarjana.

Temuan tersebut menarik karena masyarakat sering menganggap sektor digital selalu menawarkan peluang kerja besar.

LPEM FEB UI mengingatkan bahwa pertumbuhan kebutuhan keterampilan digital tidak otomatis membuat seluruh lulusan teknologi langsung memperoleh pekerjaan.

Dengan kata lain, industri membutuhkan digital skills, tetapi perusahaan tetap mencari kandidat dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan pekerjaan.

Gelar S1 Saja Tidak Cukup di Era Digital

Perubahan kebutuhan industri membuat lulusan perguruan tinggi harus membangun kompetensi tambahan.

Seorang lulusan ilmu komputer, misalnya, dapat meningkatkan daya saing dengan menguasai programming, cloud computing, data analytics, artificial intelligence, cybersecurity, atau software development.

Hal serupa berlaku bagi lulusan manajemen.

Kemampuan analisis data, pemasaran digital, penggunaan perangkat lunak bisnis, financial technology, komunikasi profesional, dan pengelolaan proyek dapat meningkatkan daya saing di pasar kerja.

Lulusan hukum juga dapat mengembangkan kompetensi di bidang legal technology, kepatuhan perusahaan, hukum bisnis, perlindungan data, dan regulasi digital.

Dengan demikian, pendidikan formal perlu berjalan bersama pengalaman praktis.

Tingkat Pengangguran Sarjana Naik pada 2025

Persoalan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi juga terlihat dari perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

LPEM FEB UI mencatat TPT lulusan minimal sarjana mencapai 5,39 persen pada 2025.

Angka tersebut meningkat dari 5,25 persen pada 2024.

Kenaikan itu belum menunjukkan kondisi krisis pengangguran sarjana. Namun, LPEM FEB UI melihat perubahan tersebut sebagai sinyal bahwa perbaikan pasar kerja setelah pandemi belum sepenuhnya berlanjut bagi lulusan pendidikan tinggi.

Beberapa faktor dapat mendorong kenaikan pengangguran tersebut.

Pertama, jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah.

Kedua, sebagian lulusan membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan.

Ketiga, pencari kerja memiliki ekspektasi tertentu terhadap gaji dan jenis pekerjaan.

Keempat, sebagian lulusan menghadapi ketidaksesuaian antara bidang studi dengan kebutuhan pasar kerja.

Provinsi Mana yang Memiliki Pengangguran Sarjana Tertinggi?

Tingkat pengangguran lulusan minimal sarjana juga berbeda antarprovinsi.

Berdasarkan laporan LPEM FEB UI, TPT lulusan minimal sarjana berada dalam rentang 1,79 persen hingga 7,85 persen.

Maluku mencatat tingkat tertinggi, yakni 7,85 persen.

Posisi berikutnya antara lain:

  • Sulawesi Utara: 7,52 persen
  • Sumatera Barat: 7,47 persen
  • Kepulauan Bangka Belitung: 7,47 persen
  • Sumatera Utara: 6,66 persen
  • Papua: 6,60 persen
  • DKI Jakarta: 5,91 persen

Sementara itu, Bali dan Papua Pegunungan mencatat angka sekitar 1,79 persen.

Kemudian, Jawa Timur berada pada angka 3,34 persen, Nusa Tenggara Barat 3,46 persen, dan Riau 3,47 persen.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi pasar kerja tidak hanya bergantung pada jurusan kuliah.

Lokasi tempat tinggal juga berpengaruh terhadap peluang kerja.

Jakarta Tidak Otomatis Menjadi Wilayah Paling Mudah Mendapat Kerja

Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional ternyata memiliki TPT lulusan minimal sarjana sebesar 5,91 persen.

Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional sebesar 5,39 persen.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pusat ekonomi juga menghadapi persaingan kerja yang sangat ketat.

Banyak lulusan perguruan tinggi memilih Jakarta karena perusahaan besar, institusi keuangan, perusahaan teknologi, konsultan, dan berbagai industri memiliki kantor di wilayah tersebut.

Namun, tingginya jumlah pencari kerja juga membuat persaingan semakin keras.

Selain itu, lulusan biasanya memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap gaji, posisi, jenjang karier, dan lingkungan kerja.

Fenomena Overeducated Semakin Menjadi Perhatian

Persoalan lulusan sarjana tidak berhenti pada angka pengangguran.

Sebagian lulusan memang sudah mendapatkan pekerjaan, tetapi pekerjaan tersebut tidak membutuhkan tingkat pendidikan yang mereka miliki.

LPEM FEB UI menyebut fenomena tersebut sebagai overeducated workers.

Dalam laporan tersebut, pekerja yang sesuai dengan tingkat pendidikan masuk dalam kelompok jabatan KBJI 1 dan 2.

KBJI 1 mencakup jabatan manajerial, sedangkan KBJI 2 mencakup tenaga profesional.

Sebaliknya, kelompok overeducated berada pada KBJI 3 hingga 9.

Jumlah pekerja lulusan minimal sarjana dalam kategori overeducated mencapai sekitar 8,01 juta orang.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tinggi tidak hanya menyangkut bagaimana lulusan mendapatkan pekerjaan, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan kompetensi dan tingkat pendidikan mereka.

Pekerjaan Administrasi Jadi Pintu Masuk Banyak Lulusan S1

Kelompok KBJI 4, yaitu tenaga tata usaha, menjadi salah satu kategori yang banyak menampung lulusan sarjana.

LPEM FEB UI melihat beberapa alasan yang mendorong kondisi tersebut.

Perusahaan membutuhkan tenaga administrasi di hampir seluruh sektor. Karena itu, posisi administratif sering menjadi pintu masuk bagi lulusan baru yang belum memiliki pengalaman panjang.

Selain itu, perusahaan terkadang mencantumkan gelar S1 sebagai syarat rekrutmen meskipun pekerjaan tersebut tidak membutuhkan kompetensi akademik tingkat tinggi.

Kondisi itu dapat memunculkan fenomena credential inflation atau inflasi kualifikasi.

Perusahaan meminta gelar yang lebih tinggi, tetapi tuntutan pekerjaan tidak selalu meningkat secara sebanding.

Baca Juga :  Ribuan Sarjana Indonesia Masih Masuk “Pekerja Putus Asa”

Lebih dari 60 Persen Pekerja Overeducated Berada di Administrasi dan Penjualan

LPEM FEB UI mencatat tenaga tata usaha serta tenaga jasa dan penjualan mencakup lebih dari 60 persen lulusan S1 yang masuk kategori overeducated.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pasar kerja Indonesia masih banyak menyerap lulusan perguruan tinggi melalui pekerjaan administratif, pelayanan, dan penjualan.

Pada saat yang sama, pertumbuhan posisi profesional belum tentu mampu mengikuti pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi.

Jika perguruan tinggi terus meningkatkan jumlah lulusan tanpa pertumbuhan pekerjaan profesional yang seimbang, jumlah pekerja overeducated berpotensi terus bertambah.

Apa yang Harus Dilakukan Calon Mahasiswa?

Data ini bukan alasan untuk menghindari jurusan manajemen, hukum, ekonomi, pendidikan, akuntansi, atau ilmu komputer.

Sebaliknya, data tersebut dapat menjadi pertimbangan agar calon mahasiswa mengambil keputusan secara lebih matang.

Sebelum memilih jurusan, calon mahasiswa perlu melihat tren kebutuhan industri, peluang pekerjaan, kompetensi yang perusahaan cari, serta perkembangan teknologi.

Mahasiswa juga sebaiknya mulai membangun pengalaman sebelum lulus.

Magang, proyek profesional, organisasi, sertifikasi, freelance, portofolio, dan pengalaman kerja paruh waktu dapat membantu mahasiswa memahami kebutuhan dunia kerja.

Strategi Lulusan S1 agar Lebih Mudah Masuk Dunia Kerja

Persaingan kerja yang semakin ketat membuat lulusan perlu memiliki strategi yang lebih konkret.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Bangun portofolio sejak kuliah. Jangan hanya mengandalkan ijazah ketika melamar pekerjaan.
  2. Ikuti program magang. Pengalaman industri dapat menjadi nilai tambah ketika menghadapi proses rekrutmen.
  3. Pelajari digital skills. Hampir seluruh industri membutuhkan kemampuan teknologi dalam berbagai bentuk.
  4. Perkuat kemampuan bahasa Inggris. Kemampuan komunikasi dapat membuka peluang di perusahaan nasional maupun global.
  5. Kembangkan soft skills. Komunikasi, kerja tim, kepemimpinan, dan pemecahan masalah tetap menjadi faktor penting.
  6. Gunakan sertifikasi profesional. Sertifikasi yang relevan dapat membantu membuktikan kemampuan spesifik.
  7. Perluas jaringan profesional. Relasi dapat membantu pencari kerja menemukan informasi lowongan yang tidak selalu muncul di portal pekerjaan.
  8. Sesuaikan CV dengan posisi. Hindari menggunakan satu CV untuk seluruh lowongan.
  9. Pelajari kebutuhan industri. Kandidat yang memahami masalah bisnis perusahaan dapat memiliki keunggulan ketika mengikuti wawancara.
  10. Jangan terpaku pada satu jenis pekerjaan. Lulusan dapat mengeksplorasi pekerjaan yang masih berkaitan dengan kompetensinya.

Kesimpulan

Data LPEM FEB UI memberikan gambaran bahwa pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi menghadirkan tantangan baru bagi pasar tenaga kerja Indonesia.

Manajemen menyumbang 10,3 persen dari pengangguran minimal sarjana, disusul hukum 9 persen, ekonomi 8,7 persen, pendidikan 7,1 persen, dan akuntansi 5,1 persen.

Sementara itu, ilmu komputer dan informatika juga menyumbang 4,6 persen meskipun industri digital terus berkembang.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa gelar sarjana saja tidak cukup untuk menjamin pekerjaan.

Pasar kerja semakin membutuhkan kombinasi antara pendidikan, keterampilan praktis, pengalaman, kemampuan teknologi, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi.

Karena itu, mahasiswa perlu memandang kuliah bukan sekadar proses mendapatkan ijazah.

Kuliah harus menjadi kesempatan untuk membangun kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.

Di tengah persaingan job market, pertumbuhan digital economy, dan perubahan kebutuhan industri, lulusan yang mampu menggabungkan gelar akademik dengan practical skills, digital skills, work experience, dan professional certification memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan.

Pada akhirnya, gelar S1 tetap penting. Namun, dunia kerja modern menuntut lebih dari sekadar selembar ijazah.(*)

Berita Terkait

Terbaru!, KIP Kuliah 2026: Cara Cek Penerima, Jadwal Terbaru, Besaran Bantuan hingga Proses Pencairan Dana
Ribuan Guru PPPK Paruh Waktu Terancam Gagal Cair TPG 2026, Status Dapodik Berubah Jadi Tendik, Ini Penyebab
Pendaftaran Sekolah Ikatan Dinas 2026 Segera Dibuka, Lulusan SMA Harus Bersiap Hadapi Seleksi CAT BKN
Krisis Guru di Daerah Terpencil, Guru PNS dan Kepala Sekolah di Merangin Terancam Dirotasi
Gaji PPPK dan ASN Jadi Perhatian DPR, APBN Diusulkan Tanggung Pembayaran di Daerah Defisit
7 Kampus Kuliah Online Terbaik di Indonesia 2026, Solusi Kuliah Fleksibel untuk Karyawan dan Mahasiswa
PPPK Sekolah Rakyat 2026: Pengumuman Lulus Administrasi Terbaru, Ini Jadwal dan Lokasi Tes CAT
ASN 2026 Bawa Angin Segar, 18.000 Guru Honorer Kemenag Masuk Daftar Prioritas Rekrutmen
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:01 WIB

Lulusan S1 Banyak Menganggur, 5 Jurusan Ini Sumbang Pengangguran Sarjana Terbesar

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:01 WIB

Terbaru!, KIP Kuliah 2026: Cara Cek Penerima, Jadwal Terbaru, Besaran Bantuan hingga Proses Pencairan Dana

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Ribuan Guru PPPK Paruh Waktu Terancam Gagal Cair TPG 2026, Status Dapodik Berubah Jadi Tendik, Ini Penyebab

Senin, 20 Juli 2026 - 13:01 WIB

Pendaftaran Sekolah Ikatan Dinas 2026 Segera Dibuka, Lulusan SMA Harus Bersiap Hadapi Seleksi CAT BKN

Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:31 WIB

Krisis Guru di Daerah Terpencil, Guru PNS dan Kepala Sekolah di Merangin Terancam Dirotasi

Berita Terbaru