Gempa Megathrust Ancam Sumatera, Ini Penjelasan Lengkap Ahli

- Jurnalis

Jumat, 2 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA,JS- Ancaman gempa bumi megathrust di wilayah barat Sumatra kembali menjadi perhatian. Kawasan Mentawai, Siberut, dan pesisir Sumatra Barat menyimpan potensi gempa besar akibat pergerakan lempeng tektonik yang terus berlangsung. Kondisi tersebut mendorong para ahli kebencanaan mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam pertanyaan mengenai kapan gempa besar akan terjadi. Menurutnya, ilmu pengetahuan hingga saat ini belum mampu menentukan secara tepat tanggal, jam, dan lokasi terjadinya gempa bumi.

Karena itu, masyarakat perlu mengalihkan perhatian dari upaya menebak waktu kejadian menuju langkah nyata untuk mengurangi risiko bencana.

“Kita harus mengubah paradigma dari ‘kapan gempa akan terjadi?’ menjadi ‘apakah kita sudah siap ketika gempa terjadi?’ Gempa tidak dapat dicegah dan waktunya belum dapat diprediksi. Tapi, korban dapat dikurangi,” kata Daryono, Jumat (2/10/2026).

Pesan tersebut menjadi penting bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa dan tsunami. Sebab, kesiapan keluarga, kondisi bangunan, akses evakuasi, serta pemahaman terhadap peringatan alam dapat menentukan keselamatan ketika bencana terjadi.

Gempa Megathrust Mentawai Jadi Perhatian, Berapa Potensinya?

Salah satu kawasan yang mendapat perhatian dalam kajian kegempaan berada di zona megathrust Mentawai, Sumatra Barat. Kawasan ini mencakup wilayah pertemuan lempeng di sekitar Kepulauan Mentawai, termasuk segmen di utara dan selatan Siberut.

Penelitian tersebut membahas deformasi kerak bumi di Sumatra berdasarkan pengamatan geodesi dan pergerakan lempeng.

Dalam skenario yang menggunakan asumsi periode ulang 200 tahun, penelitian itu menghitung potensi magnitudo sekitar Mw 8,98 untuk segmen utara Siberut dan Mw 8,79 untuk segmen selatan Siberut.

Angka tersebut menunjukkan besarnya gempa yang secara teoritis dapat dihasilkan oleh sumber tektonik dalam model penelitian. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa angka itu bukan prediksi bahwa gempa berkekuatan hampir M 9 akan terjadi dalam waktu dekat.

Daryono menegaskan bahwa estimasi magnitudo harus dibaca secara hati-hati. Para peneliti juga mencatat ketidakpastian dalam pemodelan, termasuk kemungkinan bahwa pembagian sumber gempa menjadi dua segmen dapat menghasilkan estimasi kekurangan pergeseran atau slip deficit yang terlalu besar.

Dengan demikian, angka magnitudo tersebut berfungsi sebagai informasi mengenai potensi bahaya, bukan sebagai penentu waktu terjadinya gempa.

Baca Juga :  Karhutla Jambi Meningkat, 14 Sumur Bor Diusulkan untuk Kawasan Gambut

Mengapa Wilayah Mentawai Menyimpan Potensi Gempa Besar?

Untuk memahami ancaman megathrust, masyarakat perlu mengenal proses yang berlangsung di bawah permukaan bumi.

Di sebelah barat Sumatra, Lempeng India-Australia terus bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Sunda. Proses tersebut berlangsung di zona subduksi yang membentang di sepanjang bagian barat Sumatra.

Pergerakan lempeng hanya mencapai beberapa sentimeter setiap tahun. Karena kecepatannya sangat lambat, manusia tidak merasakan proses tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

Namun, dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun, interaksi antarlempeng dapat membangun tekanan pada batuan. Pada bagian tertentu, permukaan kontak antarlempeng tidak selalu bergeser secara bebas. Kondisi ini membuat kerak bumi menyimpan energi elastik.

Daryono menjelaskan bahwa proses tersebut menjadi salah satu mekanisme yang dapat memicu gempa besar di sepanjang pantai barat Sumatra.

Ketika tekanan terus meningkat dan bagian batuan yang terkunci akhirnya bergeser secara tiba-tiba, energi yang terkumpul dapat dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik. Inilah salah satu mekanisme terjadinya gempa tektonik.

Jika pergeseran besar berlangsung di bawah laut dan mengubah dasar laut secara signifikan, gempa tersebut juga dapat memicu tsunami.

Penelitian GNSS Mengungkap Pergerakan Kerak Bumi

Untuk mempelajari kondisi tektonik Sumatra, peneliti menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS). Teknologi ini memungkinkan ilmuwan mengukur perubahan posisi titik-titik di permukaan bumi dengan tingkat ketelitian tinggi.

Penelitian Ongky Anggara dan rekan-rekannya menggunakan data pengamatan GNSS periode 2018–2021. Para peneliti memanfaatkan data dari 35 stasiun, termasuk 11 stasiun di Kepulauan Mentawai dan 14 stasiun di sekitar Zona Sesar Sumatra.

Melalui pengamatan tersebut, peneliti dapat mempelajari bagaimana kerak bumi bergerak, mengalami tekanan, dan menunjukkan indikasi penguncian pada bagian tertentu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa deformasi di Sumatra bagian tengah didominasi pemendekan atau kompresi kerak bumi. Pola ini berkaitan dengan interaksi Lempeng India-Australia dan Lempeng Sunda.

Temuan ini memberikan gambaran mengenai aktivitas tektonik yang masih berlangsung di kawasan Sumatra Barat dan Mentawai. Meski demikian, data deformasi tidak dapat menunjukkan tanggal pasti terjadinya gempa.

Dengan kata lain, GNSS membantu ilmuwan memahami pergerakan kerak bumi dan kondisi tektoniknya, bukan meramalkan hari terjadinya gempa besar.

Zona Terkunci di Barat Siberut Perlu Mendapat Perhatian

Salah satu aspek penting dalam penelitian tersebut adalah coupling, yaitu tingkat keterkaitan atau penguncian pada bidang kontak antarlempeng.

Pada zona yang terkunci kuat, dua lempeng terus mengalami pergerakan relatif, tetapi bagian bidang kontaknya tidak bergeser secara bebas. Akibatnya, kerak bumi mengalami deformasi dan dapat menyimpan energi elastik.

Penelitian yang dikutip Daryono menemukan indikasi coupling kuat terutama di bagian barat Siberut. Sementara itu, sejumlah bagian lain menunjukkan pola yang lebih kompleks, termasuk wilayah yang pernah mengalami pelepasan energi melalui gempa sebelumnya.

Para ilmuwan mempelajari kondisi tersebut untuk memperkirakan bagaimana tegangan tektonik terdistribusi di sepanjang zona subduksi.

Namun, tingkat penguncian bukan satu-satunya faktor yang menentukan kapan gempa akan terjadi. Kondisi batuan, geometri bidang kontak, riwayat gempa, serta ketidakpastian model juga memengaruhi perhitungan potensi gempa.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menafsirkan temuan zona terkunci sebagai tanda bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Sejarah Gempa Sumatra Menjadi Pengingat Risiko

Selain penelitian geodesi, catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan barat Sumatra pernah mengalami sejumlah gempa besar.

Daryono menyinggung gempa Bengkulu pada 2007 dan gempa Mentawai pada 2010 sebagai bagian dari rangkaian peristiwa yang memperlihatkan aktivitas tektonik di kawasan tersebut.

Jauh sebelum itu, gempa besar pada 1797 dan 1833 juga mengguncang wilayah Sumatra bagian barat. Peristiwa pada 1833 diperkirakan mencapai magnitudo sekitar Mw 8,8 dan berkaitan dengan tsunami yang berdampak pada wilayah pesisir.

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa zona subduksi di sekitar Mentawai memiliki kemampuan menghasilkan gempa besar. Oleh sebab itu, masyarakat dan pemerintah daerah perlu memperhitungkan risiko tersebut dalam perencanaan pembangunan, penataan kawasan pesisir, serta penyusunan rencana evakuasi.

Meski begitu, sejarah gempa tidak memberikan jadwal pasti untuk peristiwa berikutnya. Jarak waktu antara dua gempa besar tidak selalu berlangsung secara teratur, sehingga masyarakat tidak boleh menggunakan tahun kejadian sebelumnya sebagai hitungan mundur menuju bencana berikutnya.

Bukan Hanya Megathrust, Sesar Aktif di Daratan Juga Mengancam

Ancaman gempa di Sumatra Barat tidak hanya berasal dari zona subduksi di laut. Wilayah daratan juga memiliki sumber gempa aktif, termasuk bagian dari Zona Sesar Sumatra.

Salah satu segmen yang mendapat perhatian adalah Segmen Sianok. Berbeda dengan megathrust Mentawai yang berada di zona pertemuan lempeng, sesar aktif ini berada di daratan dan memiliki karakter sumber gempa tersendiri.

Dalam penelitian yang dikutip Daryono, para peneliti memperkirakan laju geser Segmen Sianok sekitar 16,5 ± 4 milimeter per tahun. Sementara itu, kedalaman pengunciannya diperkirakan sekitar 15 ± 3 kilometer.

Angka tersebut merupakan hasil estimasi ilmiah, bukan ukuran pergeseran yang terjadi secara seragam di setiap titik sesar.

Gempa dari sesar darat umumnya memiliki karakter berbeda dibandingkan gempa megathrust. Meskipun magnitudonya tidak selalu sebesar gempa di zona subduksi, sumber gempa yang dangkal dan dekat dengan permukiman dapat menghasilkan guncangan kuat di wilayah sekitar.

Oleh karena itu, masyarakat Sumatra Barat menghadapi dua jenis ancaman yang perlu diperhitungkan sekaligus, yakni gempa besar dari zona subduksi di sebelah barat dan gempa dangkal dari sesar aktif di daratan.

Perbedaan sumber gempa ini juga menuntut pendekatan mitigasi yang sesuai dengan kondisi setiap daerah.

Apa yang Harus Dilakukan Warga di Kawasan Rawan Gempa?

Daryono mengingatkan bahwa informasi ilmiah mengenai potensi gempa harus mendorong tindakan nyata. Masyarakat tidak perlu hidup dalam ketakutan, tetapi perlu memahami risiko yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

Langkah pertama, warga perlu mengetahui apakah rumah, sekolah, tempat kerja, hotel, atau fasilitas umum berada di kawasan rawan gempa maupun tsunami.

Selanjutnya, masyarakat perlu memeriksa kondisi bangunan. Rumah dan fasilitas umum yang memenuhi prinsip bangunan tahan gempa dapat membantu mengurangi risiko kerusakan, meskipun tidak menjamin bangunan sepenuhnya bebas dari kerusakan ketika gempa kuat terjadi.

Warga juga perlu mengetahui jalur evakuasi, lokasi titik kumpul, dan tempat aman yang dapat dijangkau ketika guncangan terjadi. Bagi masyarakat pesisir, pengetahuan mengenai jalur menuju tempat yang lebih tinggi menjadi sangat penting.

Selain itu, setiap keluarga sebaiknya menyepakati rencana komunikasi apabila anggota keluarga terpisah saat bencana. Simpan nomor kontak darurat dan siapkan perlengkapan dasar, seperti air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, senter, baterai, peluit, serta dokumen penting yang terlindungi.

Di lingkungan sekolah, kantor, dan tempat wisata, pengelola perlu memastikan petunjuk evakuasi mudah terlihat serta mengadakan latihan secara berkala.

Gempa Kuat di Pesisir Bisa Menjadi Peringatan Tsunami

Bagi masyarakat yang tinggal di Kepulauan Mentawai dan pesisir Sumatra Barat, risiko tsunami perlu mendapat perhatian khusus.

Gempa di laut dapat memicu tsunami apabila pergerakan dasar laut memenuhi kondisi yang memungkinkan terbentuknya gelombang tersebut. Tidak semua gempa menghasilkan tsunami, tetapi masyarakat pesisir perlu memahami tanda bahaya dan prosedur evakuasi setempat.

Daryono menegaskan bahwa guncangan kuat atau berlangsung lama di kawasan pantai harus menjadi peringatan alam bagi masyarakat untuk segera menuju tempat aman sesuai prosedur evakuasi.

Warga tidak seharusnya menghabiskan waktu untuk mengambil barang, menunggu kabar dari kerabat, atau mencari konfirmasi melalui media sosial sebelum bergerak menuju lokasi aman.

Dalam skenario tsunami lokal, gelombang dapat tiba sebelum masyarakat memiliki banyak waktu untuk mengambil keputusan. Karena itu, pemahaman jalur evakuasi dan latihan sebelumnya memegang peranan penting.

Setelah mencapai lokasi aman, masyarakat perlu mengikuti arahan petugas dan informasi resmi dari instansi berwenang. Jangan kembali ke pantai hanya karena guncangan telah berhenti, sebab rangkaian gelombang tsunami dapat berlangsung lebih dari satu kali.

Jangan Panik, tetapi Jangan Mengabaikan Risiko

Potensi gempa megathrust Mentawai merupakan persoalan kebencanaan yang perlu mendapat perhatian berdasarkan kajian ilmiah.

Sampai saat ini, para ilmuwan belum mampu menentukan secara tepat kapan, di mana, dan pada jam berapa sebuah gempa besar akan terjadi. Penelitian GNSS, pemodelan deformasi, dan kajian sejarah gempa membantu menjelaskan karakter sumber bahaya, tetapi tidak memberikan kalender kejadian.

Karena itu, masyarakat perlu menyikapi informasi kebencanaan secara tenang dan kritis. Hindari menyebarkan pesan yang mengklaim tanggal pasti gempa tanpa dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebaliknya, gunakan informasi tersebut untuk memeriksa kesiapan keluarga, memahami kondisi lingkungan, memperbaiki akses evakuasi, dan mengikuti edukasi kebencanaan dari instansi resmi.

Daryono menegaskan bahwa pertanyaan yang lebih bermanfaat bukan lagi kapan gempa Mentawai akan terjadi, melainkan apakah masyarakat sudah siap apabila gempa terjadi hari ini.(*)

Berita Terkait

Resmi Berlaku, Cek Daftar Harga BBM Pertamax, Pertalite, Shell, BP dan Vivo Terbaru
Data Penerima Bansos 2027 Dirombak, Cek Perubahan Desil dan Syarat Terbarunya
Gaji PPPK Daerah 2027 Resmi Ditanggung Pusat, Rp23 Triliun Disiapkan: Begini Nasib PPPK di Jambi
El Niño Makin Ganas, 197 Wilayah Indonesia Masuk Status Awas Kekeringan: Sentra Pangan Ikut Terancam
668 Ribu Laporan Penipuan Masuk IASC, 659 Ribu Rekening Sudah Diblokir: Waspadai 5 Modus Ini
Harga BBM Pertamina Hari Ini 26 September 2026: Pertamax hingga Pertalite, Cek Harga di Jambi dan Daerah Lainnya
Mutasi Kejaksaan September 2026: Antonius Despinola Putra Sungai Penuh Dapat Jabatan Baru, Ini Daftar 16 Pejabat dalam SK Terbaru
Jadi Iri! TPP dan Sertifikasi Guru PPPK di Daerah Ini Naik, Bagaimana Mana Daerah Lain?
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:30 WIB

Gempa Megathrust Ancam Sumatera, Ini Penjelasan Lengkap Ahli

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:38 WIB

Resmi Berlaku, Cek Daftar Harga BBM Pertamax, Pertalite, Shell, BP dan Vivo Terbaru

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:01 WIB

Data Penerima Bansos 2027 Dirombak, Cek Perubahan Desil dan Syarat Terbarunya

Rabu, 30 September 2026 - 10:02 WIB

Gaji PPPK Daerah 2027 Resmi Ditanggung Pusat, Rp23 Triliun Disiapkan: Begini Nasib PPPK di Jambi

Senin, 28 September 2026 - 19:01 WIB

El Niño Makin Ganas, 197 Wilayah Indonesia Masuk Status Awas Kekeringan: Sentra Pangan Ikut Terancam

Berita Terbaru

Nasional

Gempa Megathrust Ancam Sumatera, Ini Penjelasan Lengkap Ahli

Jumat, 2 Okt 2026 - 21:30 WIB