Kabut Asap Sungai Penuh dan Kerinci Makin Pekat, Kesehatan Masyrakat Terancam

- Jurnalis

Sabtu, 3 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kabut asap di kerinci semakin mengkhawatirkan

Kabut asap di kerinci semakin mengkhawatirkan

SUNGAIPENUH,JS- Kabut asap yang menyelimuti Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, semakin mengkhawatirkan. Selain mengganggu jarak pandang, asap yang berbau menyengat juga memicu kecemasan warga, terutama para orang tua yang khawatir terhadap kesehatan anak-anak mereka.

Dalam beberapa waktu terakhir, kabut asap tampak mengganggu aktivitas masyarakat. Warga harus lebih berhati-hati ketika berkendara, sementara orang tua mulai membatasi kegiatan anak di luar rumah untuk mengurangi paparan asap.

Kondisi tersebut menambah kekhawatiran masyarakat karena kabut asap muncul di tengah cuaca yang masih kerap diguyur hujan. Meski hujan turun di sejumlah wilayah, warga tetap mengeluhkan pekatnya asap yang mengganggu pernapasan dan aktivitas sehari-hari.

Salah seorang warga Kota Sungai Penuh, Yuni, mengaku khawatir terhadap kondisi kesehatan anaknya yang baru berusia enam tahun. Menurutnya, anak seusia itu masih senang bermain di luar rumah sehingga sulit untuk terus membatasi aktivitasnya.

“Anak umur enam tahun masih senang main keluar rumah. Setiap pulang pasti ada saja keluhan, mulai dari hidung tersumbat hingga batuk kering,” ungkap Yuni.

Yuni mengatakan keluhan tersebut membuat dirinya semakin waspada. Ia khawatir paparan kabut asap yang terus menyelimuti lingkungan tempat tinggalnya dapat mengganggu kesehatan anak.

Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga Sungai Penuh

Bagi masyarakat Kota Sungai Penuh, kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. Kondisi udara yang berbau menyengat juga menimbulkan kekhawatiran, khususnya bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan setiap hari.

Pengendara sepeda motor, pedagang, pekerja lapangan, hingga anak-anak yang berangkat dan pulang sekolah menghadapi paparan udara yang sama. Ketika kabut semakin pekat, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan selama beraktivitas.

Jarak pandang yang terbatas juga dapat menyulitkan pengendara untuk mengenali kendaraan lain, pejalan kaki, maupun kondisi jalan di depannya. Risiko tersebut semakin perlu mendapat perhatian ketika pengendara melintasi jalan yang licin setelah hujan.

Karena itu, masyarakat berharap kondisi udara di Sungai Penuh segera membaik. Warga juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai kualitas udara agar dapat menyesuaikan kegiatan sehari-hari dengan kondisi lingkungan.

Orang Tua Khawatir Kesehatan Anak Terganggu

Kekhawatiran Yuni menggambarkan persoalan yang kerap muncul ketika kabut asap menyelimuti kawasan permukiman. Anak-anak masih membutuhkan ruang bermain dan aktivitas di luar rumah, tetapi orang tua juga perlu mempertimbangkan risiko paparan polusi udara.

Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus saat kualitas udara memburuk. Sistem pernapasan mereka masih berkembang, sedangkan aktivitas fisik membuat mereka cenderung menghirup udara lebih banyak dibandingkan ketika beristirahat.

Paparan partikel halus dari asap dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan. Sejumlah gejala yang perlu orang tua perhatikan antara lain batuk, hidung berair atau tersumbat, tenggorokan terasa tidak nyaman, serta mata yang mengalami iritasi.

Namun, keluhan seperti batuk dan hidung tersumbat tidak selalu menunjukkan dampak kabut asap. Infeksi saluran pernapasan dan alergi juga dapat menimbulkan gejala serupa. Oleh sebab itu, orang tua perlu memperhatikan perkembangan kondisi anak dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika keluhan terus berlanjut.

Jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, atau kesulitan berbicara dan beraktivitas akibat gangguan pernapasan, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.

Di tengah kondisi tersebut, orang tua sebaiknya mengurangi aktivitas bermain anak di luar ruangan ketika asap terlihat pekat atau udara berbau menyengat. Orang tua juga dapat menutup pintu dan jendela saat asap masuk ke lingkungan rumah, selama langkah tersebut membantu mengurangi masuknya udara luar yang tercemar.

Baca Juga :  Tidak Hanya Abaikan Efisiensi, BIMTEK BPD se-Sungai Penuh juga Langgar Perwako

Petani di Gunung Raya Ikut Merasakan Dampak Kabut Asap

Keluhan serupa juga datang dari Kabupaten Kerinci. Suharmi, salah seorang warga yang bekerja sebagai petani di Kecamatan Gunung Raya, mengaku kabut asap mengganggu aktivitasnya ketika mengangkut hasil kebun.

Menurut Suharmi, jarak pandang yang semakin terbatas menambah risiko perjalanan, terutama saat ia harus melewati jalan yang licin setelah hujan.

“Jarak pandang saat ini semakin terganggu. Apalagi di tengah jalan licin pascahujan, saat mengangkut hasil kebun tentunya sangat berisiko bagi kami. Semoga saja kabut asap ini bisa cepat berlalu,” harapnya.

Bagi petani, perjalanan dari kebun menuju permukiman atau tempat penjualan hasil panen menjadi bagian penting dalam kegiatan sehari-hari. Mereka tetap harus memperhatikan kondisi jalan, cuaca, serta keamanan selama membawa hasil kebun.

Ketika kabut asap mengurangi jarak pandang, pengendara memiliki waktu yang lebih sedikit untuk mengantisipasi kendaraan dari arah berlawanan maupun hambatan di jalan. Permukaan jalan yang licin setelah hujan juga dapat meningkatkan risiko kendaraan tergelincir.

Oleh karena itu, Suharmi berharap kondisi tersebut segera membaik agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas dengan lebih aman.

Mengapa Kabut Asap Tetap Terasa Meski Hujan Turun?

Munculnya kabut asap ketika hujan masih sering turun menjadi pertanyaan bagi sebagian warga Sungai Penuh dan Kerinci.

Secara umum, hujan dapat membantu mengurangi sebagian partikel di udara. Namun, hujan tidak selalu menghilangkan seluruh polutan, terutama jika sumber asap masih menghasilkan emisi atau kondisi atmosfer menghambat penyebaran polutan.

Asap juga dapat bertahan di suatu wilayah ketika angin lemah dan pergerakan udara tidak cukup kuat untuk menyebarkannya. Kondisi topografi, kelembapan, serta pola angin turut memengaruhi pergerakan asap dan partikel di atmosfer.

Meski demikian, warga tidak dapat memastikan sumber kabut asap hanya berdasarkan warna, bau, atau ketebalannya. Petugas perlu memeriksa data kualitas udara, titik panas, kondisi cuaca, serta kemungkinan sumber emisi untuk mengetahui penyebabnya secara lebih akurat.

Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari instansi terkait, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah daerah, serta dinas yang menangani lingkungan hidup dan kesehatan.

Cara Melindungi Anak dan Keluarga Saat Kabut Asap

Di tengah kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, keluarga dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan polusi udara.

Pertama, batasi kegiatan di luar rumah ketika asap terlihat pekat atau kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat. Orang tua sebaiknya mengalihkan kegiatan bermain anak ke dalam ruangan untuk sementara waktu.

Kedua, gunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Masker respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat membantu menyaring partikel halus. Namun, masker tidak sepenuhnya melindungi pemakainya dari seluruh jenis polutan, termasuk gas tertentu.

Ketiga, kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Berlari, bersepeda, atau bermain secara intensif dapat meningkatkan jumlah udara yang masuk ke paru-paru.

Keempat, jaga kebersihan lingkungan rumah dan hindari kegiatan yang menambah polusi di dalam ruangan, seperti membakar sampah. Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara yang sesuai untuk membantu mengurangi partikel di dalam rumah.

Kelima, perhatikan kondisi anak, lansia, ibu hamil, serta anggota keluarga yang memiliki gangguan pernapasan. Jika muncul keluhan yang menetap atau semakin berat, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa bau asap yang menyengat bukan satu-satunya indikator tingkat bahaya udara. Sebaliknya, udara yang tampak lebih bersih belum tentu bebas dari partikel halus. Data pemantauan kualitas udara dapat membantu warga mengambil keputusan yang lebih tepat.

Baca Juga :  8 Desa di Kerinci Belum Cairkan Dana Desa 2026, KPPN Sungai Penuh Desak Pemdes Bergerak

Warga Menanti Kabut Asap Segera Berlalu

Kabut asap yang mengganggu Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci kini menjadi perhatian masyarakat karena dampaknya menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan keluarga hingga keselamatan petani saat mengangkut hasil kebun.

Yuni berharap anaknya dapat kembali bermain dengan lebih aman tanpa membuat dirinya terus-menerus khawatir terhadap keluhan kesehatan. Sementara itu, Suharmi berharap jarak pandang segera membaik agar petani dapat menjalankan aktivitas dengan risiko yang lebih rendah.

Keluhan kedua warga tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kondisi udara di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Masyarakat membutuhkan informasi kualitas udara yang mudah diakses, imbauan kesehatan yang jelas, serta penanganan sumber asap apabila petugas menemukan penyebabnya.

Hingga masyarakat memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kondisi dan sumber kabut asap, warga perlu tetap waspada, mengurangi paparan asap, serta mengutamakan keselamatan selama berkendara.

Kondisi udara yang lebih baik tidak hanya penting bagi kenyamanan masyarakat, tetapi juga bagi perlindungan kesehatan anak-anak, pekerja lapangan, petani, dan kelompok rentan lainnya.(AN)

Berita Terkait

Kabut Asap Sarolangun Makin Pekat, ISPU Tembus 203,5 dan Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
Dihadiri Wawako Azhar, Ini Pesan Sri Kartini Alfin bagi Orang Tua di Kelas Parenting
Kabut Asap Jambi Ganggu 9 Penerbangan di Bandara Sultan Thaha, Pesawat Dialihkan ke Palembang
Absensi Digital Jadi Acuan Evaluasi ASN Sungai Penuh, BKPSDM Pantau Kedisiplinan PNS dan PPPK
Mulai November 2026, Guru PPPK Paruh Waktu di Jambi Dapat Insentif Rp500 Ribu, Ini Rincian Gajinya
Jalan Lubuk Suli–Kubang Empat Tahun Rusak, Pemuda Sempat Tanami Pisang di Tengah Jalan
BREAKING NEWS: Kebakaran Hebat Dekat Pasar Sungai Penuh, Armada Damkar Masih Berjibaku Padamkan Api
Jamkesda Merangin 2026: M Syukur Ingatkan Desa Jangan Abaikan Data Warga Kurang Mampu
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 18:30 WIB

Kabut Asap Sungai Penuh dan Kerinci Makin Pekat, Kesehatan Masyrakat Terancam

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:01 WIB

Kabut Asap Sarolangun Makin Pekat, ISPU Tembus 203,5 dan Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Dihadiri Wawako Azhar, Ini Pesan Sri Kartini Alfin bagi Orang Tua di Kelas Parenting

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Kabut Asap Jambi Ganggu 9 Penerbangan di Bandara Sultan Thaha, Pesawat Dialihkan ke Palembang

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:01 WIB

Absensi Digital Jadi Acuan Evaluasi ASN Sungai Penuh, BKPSDM Pantau Kedisiplinan PNS dan PPPK

Berita Terbaru