SAROLANGUN,JS- Kondisi kualitas udara di Kabupaten Sarolangun, Jambi, kembali menjadi perhatian. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah semakin pekat, sementara angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Sarolangun terus menunjukkan peningkatan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sarolangun mencatat angka ISPU mencapai 203,5 pada 2 Oktober 2026. Angka tersebut sudah masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan klasifikasi ISPU yang berlaku di Indonesia.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Kelompok sensitif seperti anak-anak juga perlu mendapat perhatian lebih karena paparan udara tercemar dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sarolangun, Kurniawan, membenarkan peningkatan angka pencemaran udara tersebut.
“Untuk sekarang indeksnya sudah mencapai 203,5 atau bisa dibilang sudah mulai masuk dalam kategori sangat tidak sehat,” ujar Kurniawan.
ISPU Sarolangun Tembus 203,5
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium DLH Kabupaten Sarolangun, angka ISPU 203,5 tercatat pada 2 Oktober 2026.
Angka tersebut melewati ambang kategori tidak sehat. Dalam ketentuan ISPU, rentang 201 hingga 300 masuk kategori sangat tidak sehat, sedangkan angka 301 atau lebih masuk kategori berbahaya.
Dengan demikian, kondisi udara Sarolangun pada pengukuran tersebut tidak lagi sekadar menunjukkan pencemaran pada tingkat tidak sehat. Angka 203,5 sudah memasuki level yang memerlukan kewaspadaan lebih tinggi dari masyarakat.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian karena kabut asap dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Jarak pandang dapat menurun ketika konsentrasi asap meningkat, sedangkan paparan partikulat dalam waktu tertentu dapat memengaruhi sistem pernapasan.
Karena itu, masyarakat perlu mengikuti perkembangan kualitas udara sebelum menentukan aktivitas di luar rumah.
Kabut Asap Mulai Mengganggu Aktivitas Warga
Kabut asap bukan hanya persoalan jarak pandang. Kualitas udara yang buruk juga dapat membuat masyarakat merasa tidak nyaman saat melakukan aktivitas di luar ruangan.
Asap yang pekat dapat menimbulkan bau menyengat. Dalam kondisi tertentu, masyarakat juga dapat mengalami keluhan seperti batuk, iritasi pada mata, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga gangguan pernapasan.
Namun, masyarakat tidak perlu panik. Langkah utama yang dapat dilakukan ialah mengurangi paparan udara luar ketika kualitas udara memburuk.
DLH Sarolangun meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan seiring kenaikan angka ISPU tersebut.
Terlebih lagi, anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian. Aktivitas bermain atau berolahraga di ruang terbuka sebaiknya menyesuaikan kondisi kualitas udara.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Kurniawan mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum membaik.
Imbauan tersebut terutama berlaku bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak. Jika tidak ada keperluan mendesak, masyarakat dapat memilih melakukan kegiatan di dalam ruangan.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi durasi paparan terhadap polutan udara.
Selain itu, masyarakat yang tetap harus keluar rumah perlu menggunakan masker. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi paparan partikel pencemar yang terhirup.
Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi tubuh. Jika muncul keluhan kesehatan setelah terpapar asap, masyarakat sebaiknya tidak mengabaikannya dan dapat mencari bantuan tenaga kesehatan sesuai kebutuhan.
Apa Arti ISPU 203,5 bagi Kualitas Udara?
ISPU 203,5 memiliki arti penting karena angka tersebut sudah berada pada rentang kategori sangat tidak sehat.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui ketentuan ISPU membagi kualitas udara ke dalam beberapa kategori. Nilai 1–50 masuk kategori baik, 51–100 masuk kategori sedang, 101–200 masuk kategori tidak sehat, 201–300 masuk kategori sangat tidak sehat, sedangkan angka 301 ke atas masuk kategori berbahaya.
Artinya, angka 203,5 di Sarolangun hanya sedikit melewati batas awal kategori sangat tidak sehat.
Pada kategori tersebut, masyarakat perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara luar. Kelompok sensitif mendapat perhatian khusus karena risiko gangguan kesehatan dapat meningkat.
Dokumen pemerintah mengenai ISPU juga menjelaskan bahwa kategori sangat tidak sehat dapat meningkatkan risiko kesehatan pada sejumlah kelompok masyarakat yang terpapar.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap kabut asap sebagai kondisi biasa ketika angka ISPU sudah berada di level tersebut.
Anak-Anak Perlu Mendapat Perhatian Lebih
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk.
Orang tua dapat membatasi kegiatan anak di luar rumah, terutama aktivitas yang membutuhkan waktu lama atau aktivitas fisik berat.
Jika anak harus keluar rumah, orang tua dapat memastikan anak menggunakan perlindungan yang sesuai serta mengurangi waktu berada di tengah kabut asap.
Langkah tersebut semakin penting apabila kondisi udara terus memburuk.
Selain anak-anak, masyarakat dengan kondisi tertentu yang sensitif terhadap pencemaran udara juga perlu memperhatikan informasi kualitas udara secara berkala.
Penggunaan Masker Saat Beraktivitas di Luar
Masyarakat yang memiliki keperluan di luar rumah perlu menggunakan masker sebagai salah satu upaya mengurangi paparan polutan.
Penggunaan masker sebaiknya berjalan bersama langkah pencegahan lainnya. Masyarakat tetap perlu membatasi durasi aktivitas di luar dan menghindari kegiatan yang tidak mendesak.
Apabila kondisi udara semakin buruk, masyarakat dapat mempertimbangkan untuk menunda kegiatan luar ruangan hingga kualitas udara membaik.
Informasi kualitas udara juga penting bagi sekolah, perkantoran, serta penyelenggara kegiatan masyarakat. Data ISPU dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan kegiatan yang berlangsung di luar ruangan.
Kualitas Udara Dapat Berubah Sewaktu-Waktu
Angka ISPU tidak selalu berada pada level yang sama. Kondisi cuaca, arah angin, sumber emisi, serta keberadaan asap dapat memengaruhi kualitas udara dari waktu ke waktu.
Karena itu, angka 203,5 pada 2 Oktober 2026 perlu dipahami sebagai kondisi berdasarkan hasil pengujian pada periode tersebut.
Masyarakat tetap perlu mengikuti pembaruan dari instansi terkait untuk mengetahui perkembangan terbaru.
Pemerintah sendiri memiliki kewajiban menyediakan informasi mengenai hasil penentuan kategori ISPU kepada publik. Ketentuan tersebut mencakup informasi berdasarkan parameter pencemar yang dipantau.
Dengan pemantauan secara berkala, masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi kualitas udara terbaru.
Pemerintah Sarolangun Sebelumnya Juga Dorong Penggunaan Masker
Perhatian terhadap dampak kabut asap di Sarolangun sebenarnya sudah muncul sebelum angka ISPU mencapai 203,5.
Pada 1 Oktober 2026, Bupati Sarolangun H. Hurmin membagikan masker kepada anak-anak sekolah. Pemerintah Kabupaten Sarolangun juga mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika keluar rumah serta mengurangi aktivitas di luar jika tidak mendesak.
Langkah tersebut menunjukkan adanya perhatian pemerintah daerah terhadap dampak kualitas udara terhadap masyarakat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun sebelumnya juga melakukan langkah antisipasi terhadap potensi peningkatan gangguan pernapasan akibat kabut asap. Pada Agustus 2026, Dinas Kesehatan turut mendukung kegiatan pembagian masker kepada masyarakat.
Dengan kondisi ISPU yang kini mencapai 203,5, kewaspadaan masyarakat kembali menjadi penting.
Jangan Abaikan Gejala Gangguan Pernapasan
Kabut asap dapat membawa partikel pencemar yang masuk ke saluran pernapasan ketika seseorang menghirup udara tercemar.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh selama kualitas udara berada pada level buruk.
Keluhan seperti batuk, tenggorokan tidak nyaman, mata terasa perih, atau sesak napas perlu mendapat perhatian, terutama jika keluhan terus muncul atau semakin berat.
Masyarakat dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan yang mengkhawatirkan.
Selain itu, masyarakat perlu menjaga kondisi tubuh dengan cukup beristirahat dan memenuhi kebutuhan cairan.
Warga Diminta Tetap Waspada
Kenaikan ISPU Sarolangun menjadi 203,5 menjadi sinyal bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan.
Kabut asap yang semakin pekat tidak hanya mengurangi kenyamanan saat beraktivitas. Paparan polusi udara juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada masyarakat yang berada di luar ruangan.
Karena itu, masyarakat dapat mengambil langkah sederhana dengan mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker ketika harus keluar, serta mengikuti informasi kualitas udara dari instansi terkait.
Khusus orang tua, pengawasan terhadap aktivitas anak perlu mendapat perhatian lebih selama kualitas udara masih buruk.
Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu menghindari tindakan yang dapat memperburuk pencemaran udara, termasuk aktivitas pembakaran yang menghasilkan asap.
Hingga pengukuran 2 Oktober 2026, angka ISPU Sarolangun mencapai 203,5 dan masuk kategori sangat tidak sehat. Masyarakat diimbau tidak mengabaikan kondisi tersebut dan tetap mengikuti perkembangan kualitas udara terbaru dari pemerintah daerah.
Dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, masyarakat dapat mengurangi paparan kabut asap sembari menunggu kondisi kualitas udara kembali membaik.(TIM)










