Skandal Tambang Emas Ilegal di Merangin! Air Bendungan Betuk Diduga Tercemar Merkuri, Ikan Mati Massal

- Jurnalis

Minggu, 9 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pemkab Merangin bersama pihak Kepolisian lakukan uji sampel di Bendungan Bentuk, yang tercemar diduga akibat PETI.

Pemkab Merangin bersama pihak Kepolisian lakukan uji sampel di Bendungan Bentuk, yang tercemar diduga akibat PETI.

MERANGN,JS- Dugaan pencemaran lingkungan akibat aktivitas tambang emas ilegal kembali mencuat di Kabupaten Merangin, Jambi. Kali ini, Bendungan Betuk di Desa Tambang Baru, Kecamatan Tabir Lintas, menjadi sorotan setelah airnya diduga tercemar zat berbahaya yang berdampak langsung pada ekosistem dan ekonomi warga.

Pemerintah Kabupaten Merangin bergerak cepat dengan mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium. Langkah ini dilakukan guna memastikan apakah kandungan berbahaya seperti merkuri benar-benar mencemari sumber air tersebut.

Dugaan Pencemaran Air Bendungan Betuk

Wakil Bupati Merangin, Khafidh, mengungkapkan bahwa kondisi air di Bendungan Betuk sudah menunjukkan tanda-tanda pencemaran serius. Ia menyebut air terlihat berminyak, yang menjadi indikasi adanya zat asing yang masuk ke dalam perairan.

“Airnya sudah mengandung minyak, dan sampel sudah kita ambil. Selanjutnya akan diuji di laboratorium untuk memastikan apakah terdapat kandungan merkuri atau zat berbahaya lainnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Merangin Kebagian 86 Program Bedah Rumah dari Pemrov Jambi

Lebih lanjut, dugaan kuat mengarah pada aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masih marak di kawasan tersebut. Aktivitas ini dikenal sering menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dalam proses pemisahan emas.

Dampak Nyata: Ikan Mati dan Kerugian Warga

Pencemaran ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memukul sektor ekonomi masyarakat. Para pembudidaya ikan yang selama ini menggantungkan hidup dari Bendungan Betuk kini mengalami kerugian besar.

Banyak ikan di keramba warga mati secara mendadak akibat kualitas air yang terus menurun. Kondisi ini membuat usaha budidaya ikan air tawar yang dulu berkembang kini terancam gulung tikar.

“Dulu bendungan ini menjadi pusat budidaya ikan air tawar. Sekarang banyak keramba yang tidak berfungsi lagi. Ini bukti pencemaran semakin parah,” jelas Khafidh.

Selain itu, warga juga mulai khawatir terhadap dampak jangka panjang pencemaran air, terutama terkait kesehatan dan ketersediaan air bersih.

Aktivitas PETI Jadi Biang Masalah

Tambang emas ilegal atau PETI memang sudah lama menjadi persoalan klasik di wilayah Jambi, termasuk Merangin. Aktivitas ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga sulit dikendalikan karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dalam praktiknya, penambang menggunakan alat seperti dompeng serta bahan kimia berbahaya. Limbah dari proses tersebut kemudian dibuang langsung ke sungai atau bendungan tanpa pengolahan.

Akibatnya, zat beracun seperti merkuri berpotensi mencemari air dan masuk ke rantai makanan, yang pada akhirnya membahayakan manusia.

Imbauan Tegas Pemerintah Daerah

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Merangin mengeluarkan imbauan tegas kepada para penambang ilegal untuk segera menghentikan aktivitas mereka di kawasan Bendungan Betuk.

Wabup Khafidh menegaskan bahwa bendungan tersebut merupakan aset daerah yang harus dijaga keberlanjutannya.

Baca Juga :  Operasi Zebra Siginjai 2025 Dimulai! Ini 7 Pelanggaran yang Jadi Target Polisi di Jambi

“Saya mengimbau seluruh penambang untuk mengeluarkan dompeng dari Bendungan Betuk. Ini aset daerah yang harus kita lindungi bersama,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga berencana meningkatkan pengawasan dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menindak aktivitas PETI yang merusak lingkungan.

Ancaman Lingkungan dan Kesehatan Jangka Panjang

Pencemaran akibat tambang ilegal bukan hanya berdampak sesaat. Jika benar mengandung merkuri, maka dampaknya bisa berlangsung dalam jangka panjang.

Merkuri dikenal sebagai zat beracun yang dapat merusak sistem saraf manusia, terutama jika terakumulasi melalui konsumsi ikan yang terkontaminasi. Oleh karena itu, hasil uji laboratorium menjadi sangat krusial untuk menentukan langkah selanjutnya.

Selain itu, pencemaran air juga dapat merusak ekosistem perairan secara permanen, termasuk mematikan plankton, tumbuhan air, dan organisme lainnya.

Upaya Penanganan dan Harapan Warga

Warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan uji sampel, tetapi juga mengambil langkah konkret untuk menghentikan aktivitas tambang ilegal secara menyeluruh.

Beberapa langkah yang diharapkan antara lain:

  • Penertiban lokasi PETI secara tegas
  • Rehabilitasi lingkungan yang tercemar
  • Bantuan bagi pembudidaya ikan yang terdampak
  • Pengawasan berkelanjutan di kawasan bendungan

Dengan langkah yang tepat, diharapkan Bendungan Betuk dapat kembali menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

  1. Apa penyebab pencemaran Bendungan Betuk?
    Diduga kuat berasal dari aktivitas tambang emas ilegal (PETI) yang menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri.
  2. Apa dampak utama pencemaran ini?
    Ikan mati massal, kerugian ekonomi bagi pembudidaya, serta potensi bahaya kesehatan bagi masyarakat.
  3. Apakah air sudah dipastikan mengandung merkuri?
    Belum. Saat ini sampel air masih dalam tahap uji laboratorium untuk memastikan kandungan zat berbahaya.
  4. Apa langkah pemerintah?
    Mengambil sampel air, mengimbau penambang menghentikan aktivitas, dan meningkatkan pengawasan.
  5. Apakah PETI legal?
    Tidak. PETI merupakan aktivitas pertambangan tanpa izin yang melanggar hukum.

Kesimpulan

Kasus dugaan pencemaran Bendungan Betuk menjadi alarm serius bagi semua pihak. Aktivitas tambang emas ilegal tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Langkah cepat pemerintah dalam menguji sampel air patut diapresiasi. Namun, penanganan tidak boleh berhenti di situ. Penertiban PETI dan pemulihan lingkungan harus menjadi prioritas utama.

Jika tidak ditangani secara serius, dampak pencemaran ini bisa meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar di masa depan.(*)

Berita Terkait

Jelang MTQH ke-55 Provinsi Jambi, Kerinci Matangkan Persiapan 38 Peserta
28 Pemuda Daki Gunung Kerinci, Bawa Semangat Sumpah Pemuda 2026
BPK Periksa Dana BOSP Merangin 2025–2026, Pemkab Diminta Buka Data Pengelolaan Anggaran
Operasi Patuh Siginjai 2026 Dimulai Hari Ini, Polresta Jambi Bidik 7 Pelanggaran Lalu Lintas
Pemkot Sungai Penuh Wajibkan ASN Pakai Baju Melayu Jambi 2–6 November 2026, Ini Aturan Lengkapnya
Muaro Jambi Siapkan 23 Rumah Oksigen Gratis, Cek Layanan Puskesmas dan Jam Operasionalnya
Alfin dan Azhar Pimpin Goro Akbar, Ini Pesan Penting untuk Warga Sungai Penuh
Gaji 3.426 PPPK Kota Jambi Tembus Rp250 Miliar, Pemkot Berharap Pusat Ambil Alih
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:31 WIB

Jelang MTQH ke-55 Provinsi Jambi, Kerinci Matangkan Persiapan 38 Peserta

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:31 WIB

28 Pemuda Daki Gunung Kerinci, Bawa Semangat Sumpah Pemuda 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:01 WIB

BPK Periksa Dana BOSP Merangin 2025–2026, Pemkab Diminta Buka Data Pengelolaan Anggaran

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Operasi Patuh Siginjai 2026 Dimulai Hari Ini, Polresta Jambi Bidik 7 Pelanggaran Lalu Lintas

Senin, 26 Oktober 2026 - 12:35 WIB

Pemkot Sungai Penuh Wajibkan ASN Pakai Baju Melayu Jambi 2–6 November 2026, Ini Aturan Lengkapnya

Berita Terbaru