BISNIS,JS- Memasuki usia lanjut, kebutuhan perlindungan kesehatan biasanya meningkat. Pemeriksaan rutin, rawat inap, hingga pengobatan penyakit kronis dapat membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Karena itu, banyak keluarga mulai mempertimbangkan asuransi kesehatan untuk orang tua atau anggota keluarga yang sudah memasuki usia lansia.
Namun, memilih asuransi untuk lansia tidak semudah memilih polis bagi orang yang masih berada pada usia produktif. Perusahaan asuransi umumnya menerapkan ketentuan khusus karena risiko kesehatan meningkat seiring bertambahnya usia.
Selain usia masuk, calon pemegang polis juga perlu memperhatikan manfaat, masa tunggu, penyakit yang sudah ada sebelumnya, jaringan rumah sakit, serta kemampuan membayar premi dalam jangka panjang.
Asuransi Lansia Memiliki Ketentuan Khusus
Pada dasarnya, keluarga dapat mempertimbangkan dua bentuk perlindungan.
Pertama, asuransi kesehatan murni atau stand-alone. Produk ini berfokus pada perlindungan biaya medis, terutama rawat inap dan manfaat kesehatan lain sesuai ketentuan polis.
Kedua, perlindungan kesehatan melalui produk asuransi jiwa yang memiliki manfaat tambahan atau rider. Beberapa produk menggunakan skema unit link sehingga nasabah juga memiliki komponen investasi dalam polis.
Masing-masing pilihan memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, keluarga perlu menyesuaikan produk dengan kebutuhan orang tua dan kemampuan finansial.
Jangan hanya melihat besarnya manfaat yang tercantum dalam brosur. Perhatikan pula batas usia, pengecualian, biaya, serta ketentuan klaim.
Batas Usia Menjadi Pertimbangan Utama
Salah satu persoalan terbesar ketika mencari asuransi lansia adalah batas usia masuk.
Sebagian produk menetapkan batas usia tertentu bagi calon nasabah baru. Namun, beberapa produk menawarkan batas usia masuk yang relatif tinggi.
Salah satu contohnya, Maestro Optima Care dari AXA Financial Indonesia mencantumkan batas usia masuk hingga 80 tahun. Produk tersebut juga menawarkan perlindungan sampai usia 99 tahun sesuai ketentuan polis.
Sementara itu, Asuransi Second Life dari Chubb Life Indonesia menyasar kelompok usia 55 sampai 80 tahun. Produk tersebut menawarkan perlindungan jiwa untuk nasabah lansia.
Ada pula iPRIME dari Generali Indonesia yang menawarkan batas usia masuk hingga 79 tahun dan perlindungan hingga usia 99 tahun, dengan skema unit link serta pilihan manfaat tambahan.
Di sisi lain, masyarakat yang ingin menggunakan prinsip syariah dapat mempertimbangkan produk kesehatan syariah. Prudential Syariah, misalnya, menyediakan pilihan perlindungan kesehatan dengan konsep ta’awun sesuai ketentuan produk.
Ketentuan tersebut dapat berubah sesuai produk dan periode pemasaran. Karena itu, calon nasabah sebaiknya selalu memeriksa informasi polis terbaru dari perusahaan terkait.
Jangan Abaikan Penyakit yang Sudah Ada
Selain usia, riwayat kesehatan menjadi faktor penting ketika seseorang mengajukan asuransi.
Calon nasabah perlu menyampaikan kondisi kesehatan secara jujur saat mengisi formulir pengajuan. Informasi seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, atau penyakit kronis lain dapat memengaruhi keputusan perusahaan asuransi.
Istilah yang sering muncul dalam pembahasan ini adalah pre-existing condition atau kondisi medis yang sudah ada sebelum seseorang membeli polis.
Setiap perusahaan memiliki aturan berbeda mengenai kondisi tersebut. Ada produk yang mengecualikan penyakit tertentu. Ada pula produk yang memberikan perlindungan setelah nasabah melewati masa tunggu atau masa eliminasi sesuai ketentuan polis.
Karena itu, jangan menganggap semua penyakit otomatis mendapat perlindungan setelah polis aktif.
Baca bagian pengecualian dengan teliti. Jika ada istilah yang tidak dipahami, tanyakan langsung kepada agen atau perusahaan asuransi sebelum menandatangani polis.
Masa Tunggu Juga Perlu Diperhatikan
Selanjutnya, keluarga perlu memahami masa tunggu.
Polis tertentu tidak langsung memberikan seluruh manfaat sejak hari pertama. Perusahaan dapat menerapkan masa tunggu untuk kondisi atau penyakit tertentu.
Lama masa tunggu juga berbeda-beda. Beberapa manfaat dapat memiliki masa tunggu sekitar 30 hari, sementara kondisi tertentu dapat memiliki periode yang lebih panjang.
Aturan tersebut penting karena keluarga tidak ingin mengalami masalah ketika mengajukan klaim.
Misalnya, seseorang membeli polis dan beberapa minggu kemudian menjalani perawatan untuk kondisi yang masuk dalam masa tunggu. Dalam situasi seperti itu, perusahaan dapat menolak klaim apabila polis memang belum memberikan manfaat untuk kondisi tersebut.
Oleh sebab itu, calon nasabah harus mengetahui kapan perlindungan mulai berlaku dan manfaat apa saja yang langsung aktif.
Premi Lansia Cenderung Lebih Mahal
Faktor berikutnya berkaitan dengan biaya.
Semakin tinggi usia seseorang, semakin besar pula risiko kesehatan yang harus diperhitungkan perusahaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi besaran premi.
Karena itu, jangan hanya menghitung kemampuan membayar premi pada tahun pertama.
Hitung pula kemampuan keluarga dalam mempertahankan pembayaran tersebut selama beberapa tahun ke depan.
Premi yang terlihat ringan pada awalnya belum tentu menjadi pilihan paling tepat apabila manfaatnya terbatas. Sebaliknya, premi yang lebih tinggi juga belum tentu sesuai jika manfaatnya tidak sebanding dengan kebutuhan.
Keluarga perlu membandingkan manfaat, batas pertanggungan, biaya tambahan, pengecualian, serta ketentuan kenaikan premi.
Cashless Bisa Mempermudah Saat Darurat
Sistem pembayaran juga menjadi hal penting bagi lansia.
Sistem cashless dapat membantu keluarga ketika orang tua membutuhkan perawatan di rumah sakit yang masuk dalam jaringan perusahaan asuransi. Nasabah cukup mengikuti prosedur administrasi yang berlaku sehingga keluarga tidak selalu perlu menyediakan seluruh biaya rumah sakit terlebih dahulu.
Sementara itu, sistem reimbursement mengharuskan nasabah membayar biaya tertentu terlebih dahulu sebelum mengajukan penggantian kepada perusahaan.
Bagi keluarga yang memiliki dana darurat terbatas, perbedaan kedua sistem tersebut sangat penting.
Namun, sistem cashless tidak berarti seluruh biaya otomatis gratis. Nasabah tetap harus mengikuti ketentuan polis, termasuk batas manfaat, biaya sendiri, pengecualian, serta rumah sakit yang masuk dalam jaringan.
Cek Rumah Sakit Sebelum Membeli
Jaringan rumah sakit juga perlu mendapat perhatian.
Pilih produk yang memiliki jaringan rumah sakit sesuai kebutuhan dan lokasi tempat tinggal orang tua. Faktor jarak menjadi penting ketika lansia membutuhkan perawatan secara cepat.
Selain itu, cari tahu apakah rumah sakit langganan keluarga menerima kartu atau layanan dari perusahaan asuransi tersebut.
Informasi ini sebaiknya keluarga periksa sebelum membeli polis. Jangan sampai manfaat terlihat besar, tetapi fasilitas kesehatan yang mudah dijangkau justru tidak masuk dalam jaringan.
Asuransi Jiwa Tidak Selalu Menjadi Prioritas
Keluarga juga perlu menentukan jenis perlindungan yang benar-benar mereka butuhkan.
Jika tujuan utama keluarga adalah menghadapi biaya pengobatan orang tua, asuransi kesehatan dapat menjadi fokus utama.
Sebaliknya, asuransi jiwa dapat memiliki fungsi berbeda, terutama ketika keluarga masih membutuhkan perlindungan finansial atas risiko meninggal dunia.
Kondisi setiap keluarga tentu berbeda. Karena itu, keputusan tidak cukup berdasarkan usia saja.
Pertimbangkan kondisi keuangan, kebutuhan medis, tanggungan keluarga, serta aset yang sudah tersedia.
Jangan Tergiur Manfaat Besar Saja
Ketika membandingkan produk, jangan berhenti pada angka manfaat pertanggungan.
Periksa juga detail polis.
Beberapa poin penting antara lain batas usia masuk, usia akhir perlindungan, manfaat rawat inap, rawat jalan, penyakit kritis, biaya kamar, tindakan medis, biaya sendiri, masa tunggu, pengecualian, serta mekanisme pengajuan klaim.
Selain itu, tanyakan apakah perusahaan dapat mengubah premi atau ketentuan tertentu pada masa mendatang sesuai aturan polis.
Informasi tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat angka pertanggungan yang besar.
Pilih Sesuai Kemampuan Finansial Keluarga
Pada akhirnya, asuransi kesehatan lansia harus memberikan perlindungan tanpa mengganggu kondisi keuangan keluarga.
Jangan mengambil premi yang terlalu berat hanya karena ingin mendapatkan manfaat maksimal. Jika pembayaran premi berhenti di tengah jalan, keluarga justru dapat kehilangan perlindungan sesuai ketentuan polis.
Karena itu, buat perhitungan sederhana sebelum membeli.
Hitung pendapatan rutin, pengeluaran rumah tangga, dana darurat, biaya pengobatan yang sudah berjalan, serta kemampuan membayar premi secara konsisten.
Setelah itu, bandingkan beberapa produk berdasarkan kebutuhan yang sama.
Asuransi terbaik bukan selalu produk dengan manfaat paling besar. Produk yang tepat adalah produk yang manfaatnya sesuai kebutuhan, ketentuannya dapat dipahami, dan preminya sanggup keluarga bayar secara berkelanjutan.
Lima Hal yang Wajib Dicek
Sebelum membeli asuransi kesehatan untuk lansia, keluarga setidaknya perlu memeriksa lima hal.
Pertama, batas usia masuk dan usia perlindungan.
Kedua, penyakit yang sudah ada sebelumnya serta pengecualiannya.
Ketiga, masa tunggu setiap manfaat.
Keempat, jaringan rumah sakit dan sistem pembayaran klaim.
Kelima, besaran premi dan kemampuan keluarga membayarnya dalam jangka panjang.
Dengan memeriksa kelima faktor tersebut, keluarga dapat mengurangi risiko salah memilih produk.
Pada akhirnya, keputusan membeli asuransi untuk lansia membutuhkan pertimbangan yang lebih matang. Jangan hanya mengejar manfaat besar atau premi murah. Baca seluruh ketentuan polis dan pastikan keluarga memahami hak serta kewajibannya sebelum menyetujui kontrak.(*)










