TEKNOLOGI,JS- Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, teknologi yang sama juga membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 1.379 laporan penipuan keuangan yang terindikasi memanfaatkan teknologi AI sejak mulai beroperasi pada November 2024 hingga akhir Juni 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman AI scam tidak lagi sekadar isu teknologi. Penipu kini dapat memanfaatkan teknologi untuk membuat identitas palsu, meniru suara seseorang, bahkan menghasilkan konten visual yang tampak sangat meyakinkan.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan digital security secara menyeluruh. Salah satu langkah paling sederhana dapat dimulai dari hal yang sering dianggap sepele, yakni memperkuat password.
IASC sendiri merupakan forum koordinasi yang dipimpin OJK untuk mempercepat penanganan penipuan transaksi keuangan. Masyarakat yang menjadi korban dapat melaporkan kasus melalui portal resmi IASC dan tetap perlu membuat laporan kepada kepolisian untuk proses hukum.
Penipuan AI Makin Sulit Dikenali
Pelaku online scam kini tidak hanya mengandalkan pesan singkat atau telepon biasa.
Mereka dapat memadukan berbagai teknologi untuk membangun skenario penipuan yang terlihat lebih profesional.
Salah satunya melalui deepfake scam. Teknologi tersebut dapat membantu pelaku membuat video atau gambar palsu yang menyerupai orang tertentu.
Selain itu, pelaku juga dapat memanfaatkan voice cloning untuk meniru suara seseorang.
Bayangkan seseorang menerima telepon dengan suara yang sangat mirip anggota keluarga, teman, atasan, atau pihak perusahaan. Dalam kondisi panik, korban bisa saja langsung mengikuti instruksi tanpa melakukan verifikasi.
Pelaku juga dapat mencatut identitas perusahaan, lembaga keuangan, marketplace, atau institusi pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan korban.
Situasi tersebut membuat masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mengenali nomor telepon atau foto profil.
Perlindungan akun digital juga perlu mendapat perhatian serius.
Password Menjadi Benteng Awal Keamanan Digital
Password masih menjadi salah satu lapisan penting dalam account security.
Masalahnya, banyak orang masih menggunakan password sederhana karena ingin mudah mengingatnya.
Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko ketika seseorang menggunakan password yang sama pada banyak layanan.
Jika satu layanan mengalami kebocoran data dan pelaku memperoleh password korban, pelaku dapat mencoba kombinasi yang sama pada layanan lain.
Karena itu, pengguna sebaiknya membuat password yang berbeda untuk setiap akun penting.
Akun email, media sosial, marketplace, internet banking, dompet digital, dan layanan pekerjaan sebaiknya memiliki kredensial yang berbeda.
Dengan cara tersebut, kebocoran pada satu akun tidak otomatis membuka akses ke akun lainnya.
1. Gunakan Password Panjang dan Unik
Langkah pertama untuk meningkatkan password security adalah membuat password yang panjang dan unik.
Jangan hanya mengandalkan kombinasi pendek seperti nama dan angka.
Gunakan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, serta simbol jika platform mendukungnya.
Namun, panjang saja belum cukup.
Password juga harus berbeda dari password akun lain.
Misalnya, seseorang menggunakan satu password untuk email, marketplace, media sosial, dan akun finansial. Pola tersebut membuat satu kebocoran data berpotensi menimbulkan masalah yang lebih luas.
Karena itu, buat password berbeda untuk setiap layanan penting.
2. Hindari Nama dan Tanggal Lahir
Banyak orang memilih password berdasarkan informasi yang mudah diingat.
Nama sendiri, tanggal lahir, nama pasangan, nama anak, nama hewan peliharaan, atau nama toko sering menjadi pilihan.
Sayangnya, informasi tersebut dapat muncul di media sosial.
Pelaku dapat mengumpulkan informasi publik untuk membuat tebakan password.
Karena itu, hindari menggunakan data pribadi sebagai password.
Shopee sendiri mengingatkan pengguna agar password tidak memuat nama pribadi, username, nama toko, pola sederhana, atau urutan angka tertentu.
3. Jangan Gunakan Password yang Sama
Menggunakan satu password untuk semua akun memang terasa praktis.
Namun, kebiasaan tersebut meningkatkan risiko identity theft.
Jika penipu berhasil memperoleh password dari satu layanan, mereka dapat mencoba kredensial yang sama pada email, media sosial, marketplace, hingga layanan finansial.
Karena itu, gunakan password unik untuk setiap akun.
Untuk membantu mengelola banyak password, pengguna dapat mempertimbangkan password manager yang memiliki reputasi baik.
Password manager dapat membantu menyimpan kredensial secara lebih terorganisasi sehingga pengguna tidak perlu menghafal seluruh password secara manual.
4. Gunakan Frasa yang Sulit Ditebak
Pengguna juga dapat membuat password dari sebuah frasa yang mudah diingat secara pribadi.
Teknik mnemonic dapat membantu menghasilkan kombinasi yang lebih mudah diingat tetapi tidak terlalu mudah ditebak.
Contohnya, pengguna dapat mengambil sebuah kalimat yang hanya dipahami sendiri, lalu mengubahnya menjadi kombinasi karakter.
Hindari menggunakan contoh frasa tersebut secara mentah dalam password sebenarnya.
Yang terpenting, jangan mengambil kalimat yang dapat ditebak berdasarkan informasi di media sosial.
5. Aktifkan Verifikasi Dua Langkah
Password kuat bukan satu-satunya perlindungan.
Pengguna juga sebaiknya mengaktifkan two-factor authentication (2FA) atau metode verifikasi tambahan jika layanan menyediakan fitur tersebut.
Dengan 2FA, pelaku membutuhkan faktor autentikasi tambahan ketika mencoba masuk ke akun.
Lapisan keamanan ini sangat berguna ketika password bocor.
Namun, pengguna tetap perlu berhati-hati terhadap kode OTP.
Jangan pernah memberikan kode OTP, PIN, password, atau kode verifikasi kepada orang lain hanya karena mereka mengaku sebagai petugas perusahaan.
Shopee secara resmi mengingatkan bahwa pihaknya tidak akan meminta OTP, PIN, atau password pengguna.
6. Jangan Klik Link Mencurigakan
Password kuat tetap tidak cukup jika pengguna memberikan kredensial secara langsung kepada penipu.
Modus phishing sering memanfaatkan pesan yang terlihat resmi.
Pelaku dapat mengirim tautan yang mengarahkan korban ke halaman login palsu.
Tampilannya bisa menyerupai halaman perusahaan atau layanan terkenal.
Korban kemudian memasukkan username dan password tanpa menyadari bahwa pelaku telah memperoleh informasi tersebut.
Karena itu, jangan terburu-buru membuka tautan dari nomor atau akun yang tidak dikenal.
Jika menerima informasi tentang transaksi, hadiah, pembatasan akun, atau masalah pembayaran, lakukan pengecekan melalui aplikasi atau situs resmi.
7. Perbarui Password Ketika Ada Risiko
Mengganti password tidak harus dilakukan secara sembarangan setiap beberapa hari.
Yang lebih penting, pengguna segera mengganti password ketika terdapat indikasi keamanan yang bermasalah.
Contohnya, pengguna menerima notifikasi login dari perangkat yang tidak dikenal.
Situasi lain muncul ketika sebuah layanan mengumumkan kebocoran data atau pengguna tanpa sengaja memberikan kredensial kepada situs mencurigakan.
Pada kondisi tersebut, segera ubah password.
Jika pengguna menggunakan password yang sama pada layanan lain, ubah juga password pada layanan tersebut.
Waspadai Penipuan yang Mengatasnamakan Shopee
Marketplace juga menjadi salah satu ruang yang sering dimanfaatkan pelaku penipuan.
Penipu dapat mengaku sebagai customer service, kurir, penjual, atau pihak yang menangani transaksi.
Mereka kemudian meminta korban mengklik tautan, mengirimkan OTP, memberikan password, atau melakukan pembayaran di luar sistem resmi.
Karena itu, pengguna perlu memastikan seluruh transaksi tetap berlangsung melalui aplikasi atau situs resmi.
Shopee menjelaskan bahwa informasi resmi berasal dari kanal resmi dan pengguna dapat menghubungi Customer Service melalui layanan yang tersedia di aplikasi apabila menerima informasi mencurigakan.
Pengguna juga perlu menghindari pembayaran langsung kepada pihak yang mengaku sebagai penjual jika transaksi tersebut seharusnya berlangsung melalui sistem Shopee.
Buku AMAN Shopee Beri Edukasi Soal Modus Penipuan
Selain meningkatkan keamanan akun, edukasi juga memainkan peran penting dalam menghadapi perkembangan online scam.
Shopee bersama Kementerian Komunikasi dan Digital serta SIBERKREASI meluncurkan Buku AMAN atau Antisipasi Modus Penipuan Mengatasnamakan Shopee pada Oktober 2025.
Panduan tersebut hadir sebagai bagian dari kampanye #TakKenalMakaTakAman.
Buku AMAN memberikan panduan praktis agar masyarakat dapat mengenali berbagai modus penipuan online dan memahami langkah pencegahannya. Buku tersebut juga tersedia melalui portal Shopee Xtra Aman.
Upaya edukasi tersebut penting karena modus penipuan dapat berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Hari ini penipu mungkin menggunakan phishing.
Besok, mereka dapat menggabungkan phishing dengan deepfake, voice cloning, dan rekayasa identitas.
Karena itu, literasi digital perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi.
Fitur Cek Fakta Juga Bisa Membantu
Selain Buku AMAN, Shopee memiliki fitur Cek Fakta yang dapat membantu pengguna memeriksa informasi yang mengatasnamakan Shopee.
Menurut laporan ANTARA, fitur tersebut sudah hadir sejak 2023 dan pada semester pertama 2025 membantu lebih dari 250.000 pengguna mendapatkan validasi atas informasi yang mereka terima atas nama Shopee.
Fitur tersebut dapat menjadi salah satu pilihan ketika pengguna menerima pesan yang terasa mencurigakan.
Namun, prinsip utamanya tetap sama: jangan memberikan data sensitif sebelum melakukan verifikasi.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Menjadi Korban?
Kecepatan menjadi faktor penting ketika seseorang mengalami penipuan keuangan.
Jangan menunggu terlalu lama.
IASC menjelaskan bahwa korban perlu segera melaporkan penipuan melalui portal IASC untuk jalur penanganan finansial. Korban juga perlu membuat laporan polisi untuk proses hukum.
Siapkan bukti seperti:
- bukti transfer;
- nomor rekening atau akun tujuan;
- percakapan dengan pelaku;
- nomor telepon pelaku;
- tautan yang pelaku kirim;
- tangkapan layar transaksi;
- waktu dan kronologi kejadian.
Semakin lengkap informasi yang korban berikan, semakin mudah pihak terkait menelusuri transaksi dan rekening yang terhubung dengan kasus tersebut.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa laporan ke IASC tidak menjamin dana korban kembali. IASC berfokus pada percepatan penundaan transaksi, pemblokiran rekening, serta upaya penyelamatan dana yang masih tersedia.
Jangan Tunggu Akun Dibobol Baru Bertindak
Ancaman cybersecurity berkembang dengan cepat.
Karena itu, perlindungan akun tidak seharusnya menjadi tindakan darurat setelah seseorang kehilangan uang.
Mulailah dari kebiasaan sederhana.
Gunakan password unik. Aktifkan 2FA. Jangan membagikan OTP. Hindari tautan mencurigakan. Periksa alamat situs sebelum memasukkan informasi login. Selain itu, gunakan kanal resmi ketika ingin menghubungi perusahaan atau lembaga keuangan.
Khusus untuk pengguna marketplace, jangan mudah percaya kepada seseorang hanya karena mereka menggunakan logo perusahaan atau mengaku sebagai customer service.
Identitas digital dapat dipalsukan.
Suara dapat ditiru.
Foto dapat dimanipulasi.
Bahkan video dapat dibuat menggunakan AI.
Karena itu, digital security membutuhkan kombinasi antara teknologi keamanan dan kewaspadaan pengguna.
Kesimpulan
Munculnya 1.379 laporan penipuan keuangan yang terindikasi memanfaatkan AI menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru bagi keamanan masyarakat.
Deepfake, kloning suara, phishing, pemalsuan identitas, dan rekayasa sosial dapat membuat penipuan terlihat semakin meyakinkan.
Karena itu, masyarakat perlu memperkuat account security mulai dari sekarang.
Password unik dan panjang, verifikasi dua langkah, kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan, serta kebiasaan melakukan verifikasi melalui kanal resmi dapat menjadi lapisan perlindungan penting.
Jika penipuan sudah terjadi, jangan menunda pelaporan.
Gunakan kanal resmi IASC dan buat laporan polisi.
Pada akhirnya, teknologi tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk menggunakannya, tetapi juga kemampuan untuk mengenali risikonya.
Semakin canggih modus penipuan, semakin penting masyarakat membangun kebiasaan digital yang aman.(*)










