Investasi Makin Mudah dari HP, Investor Pasar Modal Tembus 30,43 Juta: Ini Risiko yang Wajib Dipahami

- Jurnalis

Selasa, 18 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Investasi mudah dari HP

Investasi mudah dari HP

BISNIS,JS- Investasi di pasar modal Indonesia semakin mudah dijangkau masyarakat. Perkembangan teknologi keuangan membuat calon investor tidak lagi membutuhkan proses panjang untuk membuka rekening, memantau portofolio, memperoleh informasi, hingga melakukan transaksi.

Hampir seluruh aktivitas tersebut kini dapat dilakukan melalui smartphone. Kondisi itu ikut mendorong pertumbuhan jumlah investor pasar modal dalam beberapa tahun terakhir.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 7 Agustus 2026 menunjukkan jumlah Single Investor Identification (SID) pasar modal mencapai 30,31 juta. Angka tersebut tumbuh sekitar 49% dibandingkan posisi 2025 yang mencapai 20,35 juta SID.

Tidak berhenti sampai angka tersebut, jumlah investor kembali meningkat. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi menyebut jumlah investor pasar modal mencapai 30,43 juta per 11 Agustus 2026.

Menurut Hasan, jumlah tersebut tumbuh 49,42% secara year to date. Mayoritas investor juga berasal dari generasi muda.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa investasi online semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Namun, kemudahan membuka rekening investasi tidak otomatis membuat seseorang memahami seluruh risiko produk keuangan.

Investasi Online Tumbuh Pesat Berkat Digitalisasi

Digitalisasi menjadi salah satu faktor utama yang mengubah cara masyarakat mengenal dan menjalankan investasi.

Dulu, calon investor harus melewati sejumlah tahapan administratif dan menyiapkan berbagai dokumen. Kini, perusahaan efek dan platform investasi menyediakan proses pembukaan rekening yang jauh lebih praktis.

Masyarakat dapat melakukan verifikasi identitas secara elektronik. Setelah proses tersebut selesai, investor dapat mengakses berbagai layanan investasi melalui perangkat digital.

Perubahan itu menurunkan hambatan masuk atau barrier to entry ke pasar modal.

Kemudahan tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat dengan modal relatif terbatas untuk mengenal instrumen seperti saham dan reksa dana.

Namun, investor tetap perlu memahami bahwa kemudahan akses tidak sama dengan kemudahan mendapatkan keuntungan.

Setiap produk investasi memiliki karakteristik, potensi keuntungan, biaya, serta risiko yang berbeda.

Karena itu, masyarakat perlu menempatkan literasi keuangan sebagai bagian penting sebelum mengambil keputusan investasi.

Jumlah Investor Naik, Literasi Investasi Masih Perlu Diperkuat

Pertumbuhan jumlah investor memberikan gambaran positif dari sisi inklusi keuangan. Akan tetapi, angka tersebut belum menggambarkan kualitas pemahaman masyarakat terhadap investasi.

Hasan Fawzi menegaskan bahwa pertumbuhan investor belum otomatis menunjukkan tingkat literasi yang memadai.

OJK melihat masyarakat perlu memahami karakteristik produk, manfaat, risiko, serta kesesuaian instrumen investasi dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.

Kesenjangan tersebut juga terlihat dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.

Secara nasional, indeks literasi keuangan mencapai 69,57%, meningkat dari 66,64% pada 2025. Sementara itu, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61%, naik dari 92,74%.

Khusus sektor pasar modal, indeks literasi tercatat 14,69%, sedangkan indeks inklusi mencapai 1,90%.

Data tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang cukup besar untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai investasi saham, reksa dana, risiko pasar modal, dan perencanaan keuangan.

Dengan kata lain, masyarakat sudah semakin mudah masuk ke dunia investasi. Namun, pengetahuan untuk mengambil keputusan yang tepat masih membutuhkan perhatian.

KSEI Dorong Akses Investasi yang Lebih Praktis

Direktur KSEI Samsul Hidayat menjelaskan bahwa digitalisasi bukan satu-satunya faktor yang mendorong pertumbuhan investor.

Penyederhanaan pembukaan rekening efek serta semakin rendahnya nominal awal investasi juga memperluas jangkauan pasar modal.

Proses yang sebelumnya membutuhkan dokumen fisik dan waktu beberapa hari kini dapat berlangsung lebih cepat melalui verifikasi identitas secara elektronik.

KSEI juga menyediakan sejumlah infrastruktur digital untuk mendukung aktivitas investor.

Salah satunya adalah Single Investor Identification atau SID yang menjadi identitas tunggal investor di pasar modal.

Selain itu, investor dapat menggunakan fasilitas AKSes untuk memantau kepemilikan efek dan portofolio secara mandiri.

KSEI juga menyediakan eASY.KSEI yang memungkinkan investor mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham secara daring.

Sementara itu, CORES.KSEI mendukung proses pembukaan rekening investasi pada perusahaan efek serta agen penjual reksa dana.

Berbagai layanan tersebut membuat aktivitas investasi digital semakin praktis.

Namun, teknologi juga menuntut investor agar semakin mandiri dalam memeriksa informasi.

Baca Juga :  BCA Buka Tabungan Emas di myBCA, Investasi Emas Kini Bisa Dibeli dan Dijual Secara Digital

Investor Jangan Hanya Mengejar Keuntungan Cepat

Kemudahan transaksi melalui aplikasi dapat memberikan manfaat besar. Investor dapat memantau pergerakan pasar dan mengambil keputusan tanpa harus datang langsung ke kantor perusahaan sekuritas.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko perilaku.

Investor pemula dapat tergoda melakukan transaksi terlalu sering. Sebagian investor bahkan bisa mengejar keuntungan jangka pendek tanpa memahami kondisi perusahaan atau instrumen yang mereka beli.

Situasi tersebut membuat konsep financial planning semakin penting.

Investor perlu menentukan tujuan sebelum memilih produk.

Misalnya, seseorang yang ingin menyiapkan dana jangka panjang tentu membutuhkan strategi berbeda dengan investor yang memiliki tujuan keuangan dalam beberapa bulan.

Profil risiko juga harus menjadi pertimbangan.

Investor dengan toleransi risiko rendah tidak seharusnya mengambil keputusan hanya karena sebuah saham sedang populer di media sosial.

Sebaliknya, investor dengan tujuan jangka panjang perlu mempertimbangkan kualitas aset, diversifikasi, kondisi ekonomi, serta kemampuan menghadapi fluktuasi harga.

Investor Pasar Modal Masih Terkonsentrasi di Pulau Jawa

Pertumbuhan investor juga belum tersebar secara merata di seluruh Indonesia.

Data KSEI per 7 Agustus 2026 menunjukkan investor dari Pulau Jawa mencapai 64,44% dari total SID pasar modal.

Sementara itu, Sumatra menyumbang sekitar 19,34%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerataan akses investasi masih menjadi pekerjaan penting bagi industri pasar modal.

Digitalisasi sebenarnya membuka peluang besar untuk memperluas akses hingga wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan layanan keuangan.

Namun, akses internet dan aplikasi investasi saja tidak cukup.

Masyarakat juga membutuhkan edukasi yang mudah dipahami, informasi yang kredibel, serta perlindungan dari penawaran investasi ilegal.

Maraknya Investasi Ilegal Jadi Tantangan

Selain masalah literasi, kepercayaan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam perkembangan pasar modal.

Penawaran investasi ilegal yang mengatasnamakan produk keuangan dapat membuat masyarakat ragu terhadap industri investasi secara keseluruhan.

Karena itu, investor perlu melakukan verifikasi sebelum menyetorkan dana.

Jangan hanya melihat janji keuntungan besar. Investor juga perlu memeriksa legalitas penyedia layanan, memahami mekanisme produk, serta mencermati risiko yang menyertainya.

Prinsip tersebut semakin penting karena informasi investasi kini beredar sangat cepat melalui media sosial.

Satu unggahan dapat membuat sebuah saham atau produk investasi menjadi pembicaraan dalam waktu singkat.

Namun, popularitas tidak sama dengan kualitas investasi.

OJK Ingatkan Investor Cermat Mengikuti Finfluencer

Fenomena financial influencer atau finfluencer juga menjadi perhatian OJK.

Kehadiran finfluencer dapat membantu masyarakat mengenal berbagai produk keuangan. Akan tetapi, masyarakat tetap perlu memeriksa kebenaran informasi yang mereka sampaikan.

OJK telah menerbitkan POJK Nomor 6 Tahun 2026 tentang Perilaku Penyampai Informasi Sektor Jasa Keuangan.

Hasan mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan investasi hanya karena suatu saham ramai dibicarakan atau mendapat rekomendasi dari figur tertentu.

Investor perlu memahami apa yang mereka beli.

Selain itu, investor perlu mengetahui karakteristik instrumen, potensi keuntungan, risiko kerugian, serta kesesuaiannya dengan tujuan keuangan.

Informasi viral di media sosial tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan.

Jangan Samakan Investasi dengan Spekulasi

Salah satu kemampuan penting bagi investor pemula adalah membedakan investasi dan spekulasi.

Investasi membutuhkan pertimbangan mengenai tujuan, jangka waktu, risiko, serta kualitas aset.

Sebaliknya, spekulasi sering kali mengandalkan pergerakan harga dalam waktu singkat tanpa analisis yang memadai.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Iding Pardi mengatakan tantangan pasar modal kini mulai bergeser.

Jika sebelumnya masyarakat menghadapi masalah akses, saat ini tantangan utama berkaitan dengan knowledge, confidence, dan quality of decision-making.

Artinya, investor tidak hanya membutuhkan akses terhadap pasar.

Mereka juga membutuhkan pengetahuan, kepercayaan diri dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menyaring informasi.

Investor Pemula Tidak Harus Langsung Menjadi Stock Picker

Investor pemula juga tidak harus langsung menjadi stock picker atau active trader.

Setiap orang memiliki tujuan finansial dan profil risiko yang berbeda.

Karena itu, pasar modal perlu menyediakan beragam instrumen agar masyarakat dapat memilih produk sesuai kebutuhan.

Investor dapat mempertimbangkan jangka waktu investasi, tingkat risiko, kebutuhan likuiditas, dan target keuangan sebelum menentukan pilihan.

Diversifikasi juga menjadi salah satu konsep penting.

Dengan diversifikasi, investor tidak menempatkan seluruh dana pada satu aset saja. Strategi tersebut dapat membantu mengelola risiko, meskipun tidak dapat menghilangkan risiko investasi sepenuhnya.

Baca Juga :  Pinjaman Online UMKM Tanpa Jaminan Resmi OJK 2026, Modal Usaha Cair Cepat Tanpa Agunan

Peran Edukasi Investasi Semakin Penting

OJK bersama SRO dan pelaku industri terus memperluas program literasi serta edukasi pasar modal.

Program seperti Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dan Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat.

BEI juga mengembangkan edukasi melalui Galeri Investasi, perguruan tinggi, komunitas, media sosial, serta berbagai program bersama OJK dan pelaku industri.

Pendekatan edukasi perlu mengikuti perubahan perilaku masyarakat.

Investor kini memperoleh informasi dari berbagai sumber. Karena itu, kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan memahami konteks menjadi semakin penting.

Kemerdekaan Berinvestasi Harus Diikuti Kemerdekaan Memahami Risiko

Pertumbuhan investor pasar modal hingga lebih dari 30 juta menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri keuangan Indonesia.

Masyarakat kini memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap produk investasi.

Namun, keberhasilan pasar modal tidak cukup hanya mengandalkan jumlah rekening investor.

Kualitas keputusan juga perlu mendapat perhatian.

Investor yang berkualitas bukan sekadar investor yang aktif melakukan transaksi. Investor berkualitas memahami tujuan investasinya, mengenali hubungan antara risiko dan imbal hasil, memiliki horizon investasi yang sesuai, serta tidak mudah mengikuti tren.

Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan investasi yang rasional.

Sebelum membeli saham atau produk investasi lain, calon investor sebaiknya memahami produk, membaca informasi resmi, menghitung kemampuan finansial, serta mempertimbangkan risiko.

Dengan pendekatan tersebut, perkembangan pasar modal Indonesia tidak hanya menghasilkan jumlah investor yang lebih besar, tetapi juga investor yang semakin matang.

Pada akhirnya, digitalisasi memang telah membuat investasi semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut harus berjalan bersama peningkatan literasi.

Masyarakat tidak cukup hanya memiliki kemampuan membuka rekening dan membeli aset melalui smartphone.

Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami risiko, melakukan diversifikasi, menyaring informasi, serta menentukan keputusan berdasarkan tujuan keuangan.

Dengan demikian, demokratisasi akses investasi dapat berjalan bersama demokratisasi pengetahuan.

Target akhirnya bukan sekadar menciptakan lebih banyak investor, melainkan membangun investor yang rasional, sabar, terinformasi, dan mampu mengelola risiko ketika menghadapi dinamika pasar keuangan.(*)

Berita Terkait

NPL Kredit Konsumer Bank Besar Naik, Ini Dampaknya bagi Nasabah dan Investor
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 18 Agustus 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar Lengkap Semua Kadar Karat
Harga Emas Perhiasan 17 Agustus 2026: 23 Karat Naik Tajam, Ini Daftar Lengkapnya
Asuransi Lansia 2026: 4 Pilihan Proteksi Kesehatan untuk Orang Tua, Cek Usia Masuk dan Risikonya Sebelum Beli
Indonesia Bidik Posisi Pusat Likuiditas Aset Digital Asia Tenggara, 3 Kunci Ini Jadi Penentu
BCA Buka Tabungan Emas di myBCA, Investasi Emas Kini Bisa Dibeli dan Dijual Secara Digital
Jangan Tunggu Usaha Bangkrut! Ini Asuransi UMKM yang Bisa Lindungi Modal dan Aset Bisnis
BCA Cetak Laba Rp35,25 Triliun hingga Juli 2026, Kredit Tembus Rp1.000 Triliun: Sinyal Menarik bagi Investor?
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:01 WIB

Investasi Makin Mudah dari HP, Investor Pasar Modal Tembus 30,43 Juta: Ini Risiko yang Wajib Dipahami

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:31 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 18 Agustus 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar Lengkap Semua Kadar Karat

Senin, 17 Agustus 2026 - 07:31 WIB

Harga Emas Perhiasan 17 Agustus 2026: 23 Karat Naik Tajam, Ini Daftar Lengkapnya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Asuransi Lansia 2026: 4 Pilihan Proteksi Kesehatan untuk Orang Tua, Cek Usia Masuk dan Risikonya Sebelum Beli

Minggu, 16 Agustus 2026 - 11:01 WIB

Indonesia Bidik Posisi Pusat Likuiditas Aset Digital Asia Tenggara, 3 Kunci Ini Jadi Penentu

Berita Terbaru