PASSEL,JS- Banjir melanda wilayah Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, pada Sabtu (10/10/2026) setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut dan daerah hulu sungai. Bencana ini merendam 115 rumah warga, menghanyutkan satu rumah dan empat warung, serta menyebabkan dua rumah mengalami kerusakan berat.
Selain merusak permukiman, banjir juga menggenangi dua tempat ibadah dan satu sekolah di Nagari Limau Purut Tapan, Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan (Rahul). Luapan sungai bahkan sempat menjebak 50 warga dan siswa yang tengah mengikuti kegiatan berkemah di kawasan Panadah.
Tim gabungan berhasil mengevakuasi seluruh warga dan siswa tersebut dalam kondisi selamat. Hingga Sabtu malam, petugas belum menerima laporan korban jiwa akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Ranah Hulu Tapan.
Peristiwa ini menjadi perhatian pemerintah nagari dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pesisir Selatan karena derasnya aliran air sempat menyulitkan aktivitas warga serta mengancam keselamatan masyarakat di sekitar sungai.
Hujan Deras Picu Luapan Sungai
Penjabat (Pj) Wali Nagari Limau Purut Tapan, Fatrialisman, mengatakan banjir mulai terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Hujan deras tidak hanya mengguyur kawasan permukiman, tetapi juga wilayah hulu sungai sehingga debit air meningkat dengan cepat.
Menurutnya, derasnya aliran air membuat warga tidak memiliki banyak waktu untuk bersiap menghadapi banjir. Air kemudian memasuki permukiman dan merendam sejumlah rumah di wilayah tersebut.
“Ya, sekitar pukul 17.00 WIB. Selain hujan di Tapan, tadi di hulu juga lebat. Jadi, air datang cepat, warga tidak sempat bersiaga,” kata Fatrialisman kepada Katasumbar.
Kondisi tersebut membuat warga harus menghadapi genangan yang datang dalam waktu relatif singkat. Pemerintah nagari kemudian memantau perkembangan situasi sekaligus mendata rumah dan fasilitas umum yang terdampak.
Fatrialisman menyampaikan bahwa banjir mulai surut sekitar pukul 19.21 WIB. Meski air berangsur turun, pemerintah nagari tetap memberikan perhatian terhadap kondisi permukiman dan kerusakan yang muncul setelah kejadian.
115 Rumah Terendam, Sejumlah Bangunan Rusak
Dampak banjir paling besar terlihat di Nagari Limau Purut Tapan. Berdasarkan pendataan awal pemerintah nagari, sebanyak 115 rumah warga terendam. Selain itu, satu rumah hanyut terbawa arus, sedangkan dua rumah lainnya mengalami kerusakan berat.
Fatrialisman membenarkan jumlah kerusakan tersebut saat memberikan keterangan kepada Katasumbar pada Sabtu malam.
“Banyak rumah terendam banjir: 115. Rumah hanyut satu dan rumah rusak berat dua unit,” ungkapnya.
Kerusakan itu menambah beban warga yang harus memeriksa kondisi rumah dan barang-barang mereka setelah air surut. Namun, pemerintah nagari masih memerlukan pendataan lebih lanjut untuk mengetahui keseluruhan dampak banjir terhadap masyarakat.
Banjir juga menggenangi dua tempat ibadah, baik masjid maupun musala, serta satu sekolah. Genangan di fasilitas umum tersebut menambah daftar dampak yang harus pemerintah setempat periksa setelah kondisi mulai membaik.
Hingga Sabtu malam, pemerintah nagari masih memantau wilayah terdampak. Pendataan tersebut penting untuk memastikan jumlah rumah yang mengalami kerusakan serta kebutuhan warga setelah banjir.
50 Warga dan Siswa Terjebak Saat Berkemah
Selain merendam permukiman, luapan sungai di kawasan Panadah sempat menjebak 50 warga dan siswa yang sedang mengikuti kegiatan berkemah. Kenaikan debit air membuat mereka kesulitan meninggalkan kawasan tersebut tanpa bantuan tim penyelamat.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Pesisir Selatan bersama tim gabungan bergerak untuk mengevakuasi seluruh orang yang terjebak. Petugas akhirnya berhasil membawa mereka ke tempat aman pada Sabtu malam.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pesisir Selatan, Hendri Agustian, memastikan seluruh warga dan siswa berhasil menyelamatkan diri melalui proses evakuasi tersebut.
“Alhamdulillah, tim TRC kita bersama tim gabungan sudah berhasil mengevakuasi korban yang terjebak di sungai tadi dan seluruhnya selamat,” kata Hendri saat dikonfirmasi Katasumbar sekitar pukul 19.30 WIB.
Keberhasilan evakuasi ini menjadi kabar melegakan di tengah bencana yang melanda kawasan Tapan. Meski demikian, kejadian tersebut menunjukkan risiko yang muncul ketika hujan deras meningkatkan debit sungai, terutama bagi warga yang beraktivitas di sekitar aliran air.
Hendri juga menyebutkan bahwa banjir menghanyutkan empat warung warga di sekitar bantaran sungai. Sementara itu, petugas masih mengumpulkan informasi mengenai dampak lain, termasuk kerusakan fasilitas umum.
“Laporan korban, alhamdulillah belum ada. Untuk kerugian materiel, baru empat warung yang hanyut. Lalu, untuk fasilitas umum kita masih terus mendata,” ujarnya.
Banjir Juga Melanda Nagari Kampung Tengah Tapan
Bencana banjir tidak hanya terjadi di Nagari Limau Purut Tapan. Nagari Kampung Tengah Tapan, yang juga berada di Kecamatan Ranah Hulu Tapan, turut mengalami genangan akibat luapan air.
BPBD Pesisir Selatan menerima laporan mengenai sedikitnya satu warga yang terjebak banjir di wilayah tersebut. Menindaklanjuti laporan itu, TRC BPBD langsung bergerak menuju lokasi untuk membantu proses evakuasi.
Hendri mengatakan timnya masih berupaya menangani situasi di Kampung Tengah Tapan ketika memberikan keterangan pada Sabtu malam.
“Sekarang tim TRC kita di Kampung Tengah Tapan untuk melakukan evakuasi. Nanti, untuk updatenya kami laporkan,” katanya.
Petugas masih perlu memastikan kondisi warga yang terdampak sekaligus memperbarui informasi mengenai situasi di lapangan. Karena itu, data mengenai jumlah korban terdampak dan kerugian material masih dapat berubah seiring perkembangan pendataan.
Meluasnya dampak banjir di beberapa titik membuat koordinasi antara BPBD, pemerintah nagari, dan unsur tim gabungan menjadi penting. Langkah tersebut membantu petugas menjangkau warga yang membutuhkan pertolongan serta memantau kondisi wilayah rawan.
Pendataan Kerusakan Masih Berlangsung
Setelah air mulai surut, pemerintah nagari dan BPBD Pesisir Selatan melanjutkan pemantauan serta pendataan dampak banjir. Petugas perlu memeriksa kondisi rumah warga, fasilitas pendidikan, tempat ibadah, dan bangunan lain yang berada di sekitar lokasi terdampak.
Fatrialisman mengatakan pemerintah nagari masih mengumpulkan informasi mengenai dampak kejadian tersebut. Ia juga membenarkan bahwa kondisi air mulai membaik pada Sabtu malam.
“Saat ini, kami masih mendata. Karena saat ini, banjir Alhamdulillah sudah mulai surut,” tuturnya.
Meski banjir mulai surut, warga tetap perlu memperhatikan kondisi lingkungan, terutama apabila hujan kembali mengguyur kawasan Tapan dan daerah hulu sungai. Perubahan debit air dapat meningkatkan risiko luapan, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan bantaran sungai.
Di sisi lain, petugas masih membutuhkan data yang lebih lengkap untuk menggambarkan total kerugian akibat banjir. Pemerintah setempat juga perlu memastikan kondisi fasilitas umum sebelum masyarakat kembali menggunakannya secara normal.
Hingga Sabtu malam, laporan awal menyebutkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Seluruh 50 warga dan siswa yang terjebak di kawasan Panadah berhasil dievakuasi dengan selamat, sementara penanganan dampak banjir dan pendataan kerusakan masih berlangsung.
Banjir di Tapan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu. Warga yang tinggal di dekat sungai perlu memperhatikan perubahan arus dan ketinggian air agar dapat segera mencari tempat aman ketika debit sungai meningkat.(*)










