SUNGAI PENUH, JS – Keberadaan anjing liar di sejumlah kawasan Kota Sungai Penuh, Jambi, terus memicu keresahan masyarakat. Warga kerap menjumpai anjing berkeliaran di sekitar perkantoran, fasilitas umum, hingga ruang publik. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi pengguna jalan, anak-anak, dan warga yang beraktivitas di luar rumah.
Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Sungai Penuh melalui Bidang Kesehatan Hewan kini menyiapkan rencana penangkapan anjing liar untuk mengatasi persoalan tersebut. Namun, keterbatasan peralatan dan anggaran masih menghambat upaya petugas dalam menjalankan langkah penanganan secara maksimal.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Sungai Penuh, Aries Armen, mengatakan pihaknya telah menyusun rencana penangkapan anjing liar. Setelah penangkapan, petugas berencana menempatkan hewan tersebut di lokasi karantina agar tidak kembali berkeliaran di tengah masyarakat.
Anjing Liar Ganggu Aktivitas Warga
Keberadaan anjing liar di kawasan perkotaan bukan sekadar persoalan kebersihan dan ketertiban. Hewan yang berkeliaran tanpa pengawasan juga dapat menimbulkan risiko keselamatan, terutama ketika muncul secara tiba-tiba di jalan atau mendekati warga yang sedang beraktivitas.
Bagi pengendara sepeda motor, kemunculan anjing di badan jalan dapat memicu kepanikan dan meningkatkan risiko kecelakaan. Sementara itu, pejalan kaki dan anak-anak berpotensi mengalami gangguan ketika berpapasan dengan anjing yang menunjukkan perilaku agresif.
Selain keselamatan pengguna jalan, masyarakat juga perlu memperhatikan risiko gigitan hewan. Gigitan anjing dapat menimbulkan luka dan memerlukan pemeriksaan medis. Apabila hewan tersebut membawa virus rabies, gigitan juga berpotensi menyebabkan penyakit serius yang mengancam nyawa.
Karena itu, penanganan anjing liar memerlukan langkah yang terencana. Pemerintah perlu mempertimbangkan keselamatan warga sekaligus menerapkan prosedur penanganan hewan yang aman.
Pemkot Siapkan Penangkapan, Fasilitas Masih Terbatas
Aries Armen menjelaskan bahwa rencana penangkapan anjing liar bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tertib. Menurutnya, petugas perlu menangani keberadaan hewan tersebut, terutama di lokasi yang ramai aktivitas masyarakat.
Namun, keterbatasan sarana operasional menjadi kendala utama. Petugas membutuhkan alat tangkap yang memadai serta fasilitas pendukung untuk menjalankan kegiatan di lapangan.
“Kami sudah menyusun rencana penangkapan anjing liar, tetapi keterbatasan alat dan fasilitas masih menjadi kendala utama,” ujar Aries Armen.
Kondisi tersebut membuat petugas belum dapat menjalankan penanganan secara optimal. Padahal, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada rencana kerja, tetapi juga pada kesiapan personel, peralatan, dan tempat penampungan yang sesuai.
Oleh sebab itu, Aries berharap Pemerintah Kota Sungai Penuh memberikan dukungan anggaran untuk memenuhi kebutuhan operasional. Dukungan tersebut mencakup pengadaan perlengkapan penangkapan dan sarana pendukung agar petugas dapat bekerja secara aman dan berkelanjutan.
Ketersediaan fasilitas juga penting untuk memastikan petugas mampu menangani hewan tanpa menimbulkan risiko tambahan bagi masyarakat maupun hewan itu sendiri.
Delapan Kasus Gigitan Tercatat Sepanjang 2026
Selain persoalan anjing liar, Aries mencatat delapan kasus gigitan hewan peliharaan di Kota Sungai Penuh sepanjang 2026. Ia menyebut sebagian besar kasus tersebut tergolong ringan.
Meski demikian, jumlah tersebut tetap memerlukan perhatian. Setiap kasus gigitan perlu mendapat penanganan yang tepat karena tingkat risiko bergantung pada kondisi luka, jenis hewan, riwayat vaksinasi, dan kemungkinan paparan rabies.
Masyarakat sebaiknya tidak menganggap remeh gigitan anjing, meskipun luka terlihat kecil. Korban perlu segera mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama sekitar 15 menit, kemudian mendatangi fasilitas kesehatan untuk memperoleh penilaian medis dan menentukan kebutuhan vaksin antirabies atau serum antirabies.
Langkah cepat sangat penting apabila status vaksinasi hewan tidak diketahui atau hewan menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Warga juga perlu menghindari upaya menangkap atau memukul anjing yang menunjukkan tanda agresif karena tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko gigitan.
Data delapan kasus gigitan yang Aries sampaikan menjadi pengingat bahwa persoalan hewan berkeliaran memerlukan perhatian bersama. Namun, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah kasus rabies. Pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk menentukan risiko pada setiap kasus.
Pemilik Hewan Diminta Lebih Bertanggung Jawab
Di samping langkah pemerintah, Aries menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengendalikan keberadaan hewan yang berkeliaran tanpa pengawasan.
Ia mengimbau pemilik anjing agar menjaga hewan peliharaan di lingkungan yang aman dan tidak membiarkannya bebas keluar rumah tanpa pengawasan. Pemilik juga perlu memastikan hewan mendapat vaksinasi sesuai anjuran dokter hewan serta menggunakan tali atau kandang yang memadai ketika diperlukan.
Tanggung jawab tersebut dapat membantu mengurangi potensi gangguan terhadap pengguna jalan dan warga sekitar. Selain itu, pemilik perlu memastikan hewan peliharaan tidak mengganggu lingkungan maupun menimbulkan ancaman bagi orang lain.
“Kesadaran pemilik hewan sangat menentukan. Jika hewan dipelihara dengan baik, potensi masalah bisa ditekan,” jelas Aries.
Partisipasi warga juga dapat membantu petugas menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan prioritas. Masyarakat dapat menyampaikan informasi mengenai titik berkumpulnya anjing liar kepada instansi terkait, terutama jika hewan tersebut menunjukkan perilaku agresif atau kerap mendatangi kawasan ramai.
Meski begitu, warga sebaiknya tidak melakukan penangkapan secara mandiri tanpa perlengkapan dan keterampilan yang memadai. Penanganan oleh petugas yang kompeten dapat mengurangi risiko cedera serta mencegah tindakan yang membahayakan manusia maupun hewan.
Penanganan Perlu Mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan
Rencana penangkapan anjing liar membutuhkan dukungan lintas sektor agar pelaksanaannya tidak berhenti pada kegiatan sesaat. Pemerintah daerah perlu menyiapkan prosedur penangkapan, tempat penampungan, pemeriksaan kesehatan hewan, serta langkah lanjutan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, petugas perlu mengidentifikasi kondisi hewan sebelum menentukan penanganan berikutnya. Pendekatan tersebut membantu mencegah risiko penyakit menular sekaligus memastikan petugas menerapkan prinsip kesejahteraan hewan.
Pemerintah juga dapat memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai kepemilikan hewan yang bertanggung jawab, vaksinasi rabies, serta langkah pertolongan pertama ketika terjadi gigitan.
Di sisi lain, warga perlu memahami bahwa tidak semua anjing yang berkeliaran menunjukkan perilaku berbahaya. Karena itu, penanganan harus mengutamakan penilaian kondisi hewan dan keselamatan masyarakat, bukan tindakan yang membahayakan tanpa pertimbangan.
Menunggu Dukungan Anggaran Pemkot
Aries berharap Pemerintah Kota Sungai Penuh memberikan dukungan nyata agar rencana penangkapan anjing liar dapat berjalan lebih efektif. Ia menilai ketersediaan alat, fasilitas, dan anggaran menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Apabila dukungan tersebut terpenuhi, petugas memiliki peluang lebih besar untuk menangani titik-titik yang menimbulkan keresahan masyarakat. Koordinasi antara pemerintah, petugas kesehatan hewan, tenaga kesehatan, dan warga juga dapat memperkuat upaya pencegahan.
Hingga kini, persoalan anjing liar masih membutuhkan penanganan yang terarah. Masyarakat menantikan langkah nyata pemerintah untuk mengurangi gangguan di ruang publik sekaligus menjaga keselamatan pengguna jalan.
Dengan dukungan anggaran yang memadai dan kesadaran pemilik hewan, Pemerintah Kota Sungai Penuh diharapkan mampu membangun sistem penanganan yang lebih teratur. Upaya tersebut penting agar warga dapat beraktivitas dengan aman, sementara petugas menangani hewan liar secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. (AN)










