BISNIS,JS– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan selama empat hari perdagangan berturut-turut hingga penutupan Jumat (23/10/2026). Namun, kenaikan pasar saham Indonesia belum menghentikan aksi jual investor asing yang nilainya mencapai triliunan rupiah.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG menguat 0,95% atau bertambah sekitar 51 poin ke level 5.439,25 pada akhir perdagangan Jumat. Dengan hasil tersebut, indeks saham domestik membukukan kenaikan kumulatif sebesar 4,9% sepanjang pekan terakhir.
Meski demikian, investor asing justru melepas saham dalam jumlah besar. Sepanjang perdagangan Jumat, nilai jual bersih atau net sell asing mencapai Rp1,29 triliun di seluruh pasar. Jika dihitung selama sepekan, akumulasi aksi jual bersih tersebut menembus Rp8,72 triliun.
Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar. Di satu sisi, IHSG menunjukkan tren penguatan. Di sisi lain, arus dana asing masih mencerminkan tekanan jual yang cukup besar terhadap sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia.
IHSG Menguat, Sentimen Pasar Berbalik Positif
IHSG bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan Jumat. Indeks sempat menyentuh level terendah 5.366 sebelum naik hingga 5.455.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa minat beli masih mampu menopang pasar saham domestik. Penguatan juga mendapat dukungan dari mayoritas saham yang mencatatkan kenaikan harga.
BEI mencatat sebanyak 477 saham menguat pada perdagangan Jumat. Sementara itu, 187 saham melemah dan 129 saham lainnya bertahan tanpa perubahan harga.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan IHSG tidak hanya berasal dari pergerakan beberapa saham tertentu. Mayoritas saham yang tercatat di bursa turut mencatatkan penguatan, meskipun tekanan jual asing masih membayangi sejumlah emiten berkapitalisasi besar.
Selain itu, investor juga mencermati keberlanjutan tren kenaikan indeks setelah IHSG membukukan penguatan selama empat hari berturut-turut. Pergerakan berikutnya akan menjadi perhatian untuk melihat apakah tren positif tersebut mampu bertahan.
Transaksi Saham BEI Tembus Rp16,20 Triliun
Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia tetap ramai menjelang akhir pekan.
Pada Jumat (23/10/2026), volume perdagangan saham mencapai 16,20 miliar saham. Nilai transaksi pada hari yang sama juga tercatat sebesar Rp16,20 triliun.
Besarnya aktivitas transaksi menunjukkan bahwa pelaku pasar tetap aktif memperdagangkan saham di tengah perubahan sentimen. Namun, angka transaksi tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh investor memiliki pandangan positif terhadap prospek pasar.
Investor domestik dan asing dapat mengambil keputusan berbeda dalam menghadapi kondisi pasar yang sama. Sebagian pelaku pasar memanfaatkan momentum kenaikan untuk membeli saham, sedangkan sebagian lainnya memilih merealisasikan keuntungan atau mengurangi kepemilikan.
Perbedaan strategi tersebut turut membentuk pergerakan harga saham harian. Karena itu, investor perlu memperhatikan arah indeks, volume perdagangan, dan arus dana asing secara bersamaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Asing Catat Net Sell Rp8,72 Triliun Sepekan
Di tengah kenaikan IHSG, arus modal asing justru menunjukkan tekanan jual yang signifikan.
Investor asing mencatatkan net sell Rp1,29 triliun di seluruh pasar pada perdagangan Jumat. Nilai tersebut menambah akumulasi jual bersih selama sepekan yang mencapai Rp8,72 triliun.
Net sell terjadi ketika nilai penjualan saham oleh investor lebih besar daripada nilai pembeliannya dalam periode tertentu. Dengan demikian, data tersebut menggambarkan selisih transaksi bersih investor asing, bukan keseluruhan nilai saham yang mereka jual.
Besarnya aksi jual asing juga tidak berarti seluruh saham mengalami penurunan harga. Data perdagangan Jumat justru menunjukkan 477 saham menguat, lebih banyak daripada saham yang melemah.
Perbedaan tersebut menegaskan bahwa pergerakan IHSG dan arus transaksi investor asing tidak selalu berjalan searah dalam jangka pendek. Investor domestik dapat menopang harga saham ketika investor asing mengurangi kepemilikan.
Meski begitu, investor tetap perlu mencermati kelanjutan arus dana asing. Tekanan jual yang bertahan pada saham-saham berkapitalisasi besar berpotensi memengaruhi sentimen pasar, terutama jika minat beli dari investor lain melemah.
BBCA dan BBRI Pimpin Daftar Saham yang Dilepas Asing
Sektor perbankan mendominasi daftar saham dengan nilai net sell asing terbesar pada Jumat (23/10/2026).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menempati posisi pertama dengan nilai jual bersih asing sebesar Rp766,98 miliar. Angka tersebut jauh melampaui nilai net sell pada sebagian besar saham lain dalam daftar.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyusul di posisi kedua dengan nilai Rp346,82 miliar. Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan net sell sebesar Rp101,25 miliar.
Tiga bank besar tersebut secara keseluruhan menyumbang nilai jual bersih asing sekitar Rp1,22 triliun. Jumlah itu menunjukkan besarnya kontribusi ketiga saham perbankan terhadap tekanan jual asing dalam daftar 10 saham terbesar pada hari tersebut.
Namun, data net sell saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing kehilangan kepercayaan terhadap seluruh sektor perbankan. Investor perlu membandingkan transaksi harian dengan kinerja keuangan emiten, valuasi saham, prospek bisnis, serta kondisi industri.
Daftar 10 Saham dengan Net Sell Asing Terbesar
Berikut 10 saham yang mencatatkan nilai jual bersih investor asing terbesar pada perdagangan Jumat (23/10/2026), berdasarkan data yang tersedia.
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp766,98 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp346,82 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Rp101,25 miliar
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): Rp79,24 miliar
- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS): Rp60,17 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp52,99 miliar
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp51,36 miliar
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Rp46,54 miliar
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA): Rp44,84 miliar
- PT Timah Tbk (TINS): Rp42,24 miliar
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa aksi jual asing tidak hanya menyasar saham perbankan. Investor asing juga mencatatkan jual bersih pada saham teknologi, telekomunikasi, energi, petrokimia, dan pertambangan.
GOTO berada di posisi keempat dengan nilai net sell Rp79,24 miliar. Sementara itu, TLKM mencatatkan jual bersih Rp52,99 miliar, disusul BUMI sebesar Rp51,36 miliar.
Pada kelompok saham komoditas dan industri, TPIA mencatatkan net sell Rp46,54 miliar. Adapun PTBA dan TINS masing-masing mencatatkan nilai Rp44,84 miliar dan Rp42,24 miliar.
Perbedaan nilai transaksi tersebut dapat membantu investor mengenali saham-saham yang mencatatkan tekanan jual asing terbesar pada hari itu. Namun, daftar ini tidak secara otomatis menunjukkan saham yang paling berisiko atau yang akan mengalami penurunan harga pada perdagangan berikutnya.
Apa yang Perlu Dicermati Investor pada Pekan Berikutnya?
Penguatan IHSG sebesar 4,9% selama sepekan memberikan gambaran bahwa pasar saham domestik mampu mempertahankan momentum positif. Akan tetapi, investor tetap perlu berhati-hati ketika membaca sinyal pasar.
Pertama, perhatikan kelanjutan arus dana asing. Jika net sell terus berlanjut, investor perlu melihat saham mana yang paling banyak mengalami tekanan serta bagaimana pasar menyerap aksi jual tersebut.
Kedua, cermati volume dan nilai transaksi. Kenaikan indeks yang disertai aktivitas perdagangan tinggi dapat memberikan informasi tambahan mengenai partisipasi pasar, tetapi tidak menjamin keberlanjutan tren.
Ketiga, periksa fundamental emiten sebelum membeli saham. Kinerja laba, pendapatan, kualitas aset, utang, arus kas, dan valuasi perlu menjadi bagian dari pertimbangan investasi, bukan hanya pergerakan transaksi asing dalam satu hari.
Keempat, hindari keputusan terburu-buru berdasarkan satu indikator. Aksi jual asing dapat mencerminkan berbagai strategi, termasuk penyesuaian portofolio, realisasi keuntungan, atau perubahan alokasi dana. Data transaksi harian saja tidak dapat memastikan alasan di balik keputusan tersebut.
Catatan: Data net sell menunjukkan aktivitas transaksi pada periode tertentu dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Investor tetap perlu melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan.(*)










