SUNGAIPENUH,JS– Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Sungai Penuh, Jambi, mencatat peningkatan kasus gigitan hewan sepanjang 2025. Jumlah kasus naik dari 60 kejadian pada 2024 menjadi 75 kejadian pada 2025. Peningkatan ini menjadi perhatian karena interaksi yang tidak aman dengan hewan peliharaan dapat membahayakan masyarakat, terutama anak-anak.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Sungai Penuh, Aries Armen, menjelaskan bahwa laporan tersebut menunjukkan kenaikan jumlah kejadian dalam satu tahun. Meski demikian, hasil pemantauan petugas menunjukkan bahwa sebagian besar gigitan masuk kategori ringan dan tidak mengarah pada penularan rabies.
“Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan bahwa gigitan yang terjadi umumnya ringan dan tidak menimbulkan rabies,” ujar Aries.
Meski sebagian besar kasus tergolong ringan, masyarakat tetap perlu memperhatikan setiap kejadian gigitan hewan. Luka kecil sekalipun membutuhkan penanganan yang tepat, terutama jika masyarakat belum mengetahui status vaksinasi hewan yang menggigit.
Kasus Gigitan Hewan Meningkat dalam Setahun
Data Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Sungai Penuh memperlihatkan kenaikan sebanyak 15 kasus dari 2024 ke 2025. Secara persentase, jumlah tersebut meningkat sekitar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak menganggap interaksi dengan hewan peliharaan selalu aman. Anjing dan kucing memang kerap menjadi bagian dari kehidupan keluarga, tetapi keduanya tetap memiliki naluri untuk melindungi diri ketika merasa terancam.
Karena itu, pemilik hewan perlu memahami perilaku peliharaan masing-masing. Mereka juga perlu mengawasi interaksi antara hewan dan orang lain, terutama anak-anak yang belum memahami tanda-tanda ketika hewan merasa terganggu.
Di sisi lain, masyarakat tidak perlu langsung menganggap setiap gigitan sebagai tanda penularan rabies. Namun, warga juga tidak boleh memastikan suatu gigitan bebas dari risiko hanya berdasarkan ukuran luka atau penampilan hewan.
Petugas kesehatan perlu menilai risiko berdasarkan kondisi luka, jenis hewan, riwayat vaksinasi, serta informasi lain yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Anak-Anak Rentan Mengalami Gigitan Hewan
Aries Armen menjelaskan bahwa anak-anak sering mengalami gigitan karena mereka belum memahami cara berinteraksi dengan hewan secara aman.
Dalam sejumlah situasi, anak-anak mungkin mendekati anjing atau kucing ketika hewan tersebut sedang makan, tidur, atau beristirahat. Mereka juga terkadang menarik ekor, memegang telinga, memeluk terlalu erat, atau mengganggu hewan saat hewan ingin menjauh.
Perilaku tersebut dapat memicu reaksi defensif. Hewan yang merasa terancam bisa menggeram, mencakar, atau menggigit untuk melindungi dirinya.
Oleh sebab itu, orang tua perlu mendampingi anak ketika mereka bermain bersama hewan. Pengawasan langsung dapat membantu orang tua mengenali perilaku yang berisiko sekaligus mencegah anak melakukan tindakan yang membuat hewan merasa tidak nyaman.
Selain mengawasi, orang tua perlu memberikan contoh sederhana. Anak-anak harus belajar meminta izin kepada pemilik hewan sebelum mendekat, menghindari gerakan mendadak, serta tidak menyentuh hewan yang sedang makan atau tidur.
Anak juga perlu memahami bahwa hewan yang terlihat tenang belum tentu selalu ingin disentuh. Ketika anjing atau kucing menjauh, menunjukkan gigi, menggeram, atau memperlihatkan tanda ketidaknyamanan lainnya, anak sebaiknya segera berhenti mendekat.
Kenali Langkah Pertama Setelah Gigitan
Masyarakat perlu mengambil tindakan cepat ketika mengalami gigitan anjing, kucing, atau mamalia lain yang berpotensi menularkan rabies.
Pertama, segera cuci luka menggunakan air mengalir dan sabun selama sekitar 15 menit. Langkah ini membantu mengurangi kontaminasi pada luka. Setelah itu, segera kunjungi puskesmas atau fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penilaian medis.
Jangan menunggu munculnya gejala sebelum mencari pertolongan. Rabies merupakan penyakit serius yang menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal setelah gejala klinis muncul.
Tenaga kesehatan akan menilai jenis paparan dan menentukan kebutuhan penanganan lanjutan, termasuk pemberian vaksin antirabies (VAR) atau serum antirabies (SAR) jika memang diperlukan. Keputusan tersebut bergantung pada hasil pemeriksaan dan pedoman medis yang berlaku.
Masyarakat juga sebaiknya mencatat informasi mengenai hewan yang menggigit, seperti jenis hewan, lokasi kejadian, status vaksinasi jika diketahui, serta identitas pemiliknya. Informasi ini dapat membantu petugas melakukan penilaian risiko.
Namun, warga tidak boleh menunda pemeriksaan hanya karena hewan terlihat sehat atau pemiliknya menyatakan bahwa hewan tersebut sudah mendapatkan vaksinasi. Petugas kesehatan tetap perlu mengevaluasi setiap paparan secara menyeluruh.
Vaksinasi Hewan Menjadi Langkah Pencegahan
Selain mengajarkan anak berinteraksi secara aman, Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Sungai Penuh mengimbau pemilik hewan agar memperhatikan perawatan dan vaksinasi secara rutin.
Vaksinasi rabies berperan penting dalam melindungi hewan sekaligus mengurangi risiko penularan kepada manusia. Pemilik perlu berkonsultasi dengan dokter hewan atau petugas peternakan untuk mengetahui jadwal vaksinasi yang sesuai.
Pemilik juga sebaiknya menjaga hewan di lingkungan yang aman, menggunakan tali ketika membawa anjing ke tempat umum, serta menghindari pembiaran hewan berkeliaran tanpa pengawasan.
Selain itu, pemilik perlu memperhatikan perubahan perilaku hewan. Hewan yang menunjukkan perilaku tidak biasa, agresivitas yang tidak wajar, kesulitan menelan, atau gangguan koordinasi membutuhkan pemeriksaan dokter hewan. Masyarakat sebaiknya tidak menangani sendiri hewan yang menunjukkan gejala mencurigakan.
Jika menemukan hewan yang diduga terinfeksi rabies atau mengalami perubahan perilaku secara mendadak, warga perlu melaporkannya kepada petugas terkait. Hindari menangkap atau menyentuh hewan tersebut tanpa perlindungan yang memadai.
Orang Tua dan Pemilik Hewan Perlu Bekerja Sama
Pencegahan gigitan hewan membutuhkan keterlibatan keluarga, pemilik hewan, dan pemerintah daerah. Orang tua bertanggung jawab mengajarkan kebiasaan aman kepada anak, sedangkan pemilik hewan perlu menjaga kesehatan serta mengendalikan perilaku peliharaannya.
Di lingkungan permukiman, warga juga dapat meningkatkan kewaspadaan dengan melaporkan keberadaan hewan yang menunjukkan perilaku berbahaya. Koordinasi dengan petugas terkait membantu masyarakat memperoleh informasi dan penanganan yang sesuai.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait juga memiliki peran dalam memberikan edukasi tentang rabies, mendorong vaksinasi hewan, serta memperkuat pemantauan kasus gigitan.
Peningkatan dari 60 kasus pada 2024 menjadi 75 kasus pada 2025 memang belum menjelaskan seluruh faktor penyebab kejadian. Namun, data tersebut cukup menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengabaikan keselamatan ketika berinteraksi dengan hewan.
Aries Armen mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan memastikan hewan peliharaan mendapatkan perawatan yang memadai. Dengan pengawasan orang tua, pemahaman perilaku hewan, vaksinasi rutin, serta penanganan cepat setelah gigitan, masyarakat dapat mengurangi risiko kejadian serupa.
Pada akhirnya, kebiasaan sederhana seperti tidak mengganggu hewan saat makan, mengawasi anak ketika bermain, dan segera memeriksakan luka gigitan dapat membantu melindungi keluarga dari risiko yang lebih serius.(TIM)










