Dividen Jumbo Emiten Blue Chip Belum Mampu Tahan Outflow Asing

- Jurnalis

Sabtu, 14 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS – Dividen Jumbo Emiten Blue Chip Belum Mampu Tahan Outflow Asing

Sejumlah emiten blue chip mulai memberi sinyal pembagian dividen besar dari laba tahun buku 2025. Namun demikian, sentimen tersebut belum cukup kuat menghentikan arus dana asing yang terus keluar dari pasar saham Indonesia.

Sejauh ini, beberapa perusahaan telah merilis laporan keuangan 2025 dan mengumumkan agenda pembagian laba dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

Sinyal Awal dari Emiten Perbankan

BCA Siapkan Agenda Penetapan Dividen

Sebagai bank dengan kapitalisasi besar, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) akan menggelar RUPST pada Kamis, 12 Maret 2026 pukul 14.00 WIB di Menara BCA, Grand Indonesia, Jakarta.

Baca Juga :  Investasi Jangka Pendek, Ini 4 Pilihan yang Bisa Dicoba

Dalam pemanggilan resmi, direksi mencantumkan tujuh mata acara. Pertama, pemegang saham akan menyetujui laporan tahunan dan mengesahkan laporan keuangan tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025. Selanjutnya, pemegang saham akan menetapkan penggunaan laba bersih 2025.

Manajemen mengusulkan pembagian sebagian laba sebagai dividen tunai. Manajemen juga akan mencatat sisa laba sebagai laba ditahan untuk memperkuat permodalan. Sepanjang 2025, BCA mencatat laba bersih Rp57,5 triliun atau tumbuh 4,9% secara tahunan.

Dividen Tambahan dari Aksi Korporasi

Unilever Andalkan Laba dan Hasil Divestasi

Di sisi lain, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) menyiapkan pembagian dividen dari laba operasional 2025 dan hasil divestasi bisnis es krim serta Sariwangi.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap menyatakan manajemen menjaga dividend payout ratio (DPR) di level 100%. Selain itu, perseroan akan menyalurkan tambahan dividen dari hasil penjualan sejumlah lini usaha.

Baca Juga :  FTSE Russell Tunda Rebalancing Indeks Indonesia, Pasar Saham Tetap Stabil

Sepanjang 2025, Unilever mencatat laba bersih Rp7,64 triliun. Perusahaan meningkatkan laba 126,83% dibandingkan Rp3,36 triliun pada 2024.

Tekanan Asing Masih Mendominasi

Dividen dan Buyback Belum Jadi Penahan Utama

Meski sentimen dividen cukup positif, investor asing terus melepas saham. Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto menilai dividen dan aksi buyback dapat menopang harga saham, terutama emiten berfundamental kuat dan berkapitalisasi besar.

Namun, arus modal asing yang terus keluar membatasi dampaknya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 13 Februari 2026, investor asing mencatat net sell Rp16,48 triliun sejak awal tahun.

Kondisi tersebut membuat dividen besar belum mampu membalikkan tren pasar dalam jangka pendek.

Prospek Fundamental Masih Menjanjikan

Perbankan dan Konglomerasi Tetap Solid

Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham unggulan tetap menunjukkan fundamental kuat. Jika pertumbuhan ekonomi naik ke kisaran 5,3% dari 5,1%, beberapa emiten berpotensi mencatat kinerja stabil.

Sebagai contoh, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Astra International Tbk. (ASII) berpeluang menjaga pertumbuhan pendapatan dan laba.

Namun, sektor perbankan tetap menghadapi tantangan menjaga pertumbuhan kredit di kisaran 10%. Di saat yang sama, sektor otomotif menghadapi persaingan ketat dari merek kendaraan asal China yang semakin agresif memasuki pasar.

Telekomunikasi Ikut Menarik Perhatian

Permintaan Data Jadi Penopang

Selain perbankan dan otomotif, sektor telekomunikasi juga menunjukkan prospek cerah. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT), dan PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) berpotensi mencatat pertumbuhan solid seiring meningkatnya konsumsi data.

Baca Juga :  Bank Mandiri Perkuat Struktur Keuangan, Dukung Ekspansi Bisnis

Peningkatan kebutuhan layanan digital mendorong kinerja sektor ini dan menjaga daya tarik saham telekomunikasi di tengah volatilitas pasar.

Perbedaan Strategi Investor

Domestik Agresif, Asing Tunggu Katalis

Rully melihat investor domestik memanfaatkan koreksi harga untuk masuk dan memburu peluang rebound jangka pendek. Sebaliknya, investor asing memilih bersikap wait and see.

Investor asing mempertimbangkan faktor global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta arah kebijakan domestik sebelum kembali masuk secara agresif.

Pada akhirnya, dividen jumbo memang meningkatkan daya tarik saham blue chip. Namun, arus dana asing belum menunjukkan tanda pembalikan dalam waktu dekat.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. jambisun.id tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.(*)

Berita Terkait

Investasi Makin Mudah dari HP, Investor Pasar Modal Tembus 30,43 Juta: Ini Risiko yang Wajib Dipahami
NPL Kredit Konsumer Bank Besar Naik, Ini Dampaknya bagi Nasabah dan Investor
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 18 Agustus 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar Lengkap Semua Kadar Karat
Harga Emas Perhiasan 17 Agustus 2026: 23 Karat Naik Tajam, Ini Daftar Lengkapnya
Asuransi Lansia 2026: 4 Pilihan Proteksi Kesehatan untuk Orang Tua, Cek Usia Masuk dan Risikonya Sebelum Beli
Indonesia Bidik Posisi Pusat Likuiditas Aset Digital Asia Tenggara, 3 Kunci Ini Jadi Penentu
BCA Buka Tabungan Emas di myBCA, Investasi Emas Kini Bisa Dibeli dan Dijual Secara Digital
Jangan Tunggu Usaha Bangkrut! Ini Asuransi UMKM yang Bisa Lindungi Modal dan Aset Bisnis
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:01 WIB

Investasi Makin Mudah dari HP, Investor Pasar Modal Tembus 30,43 Juta: Ini Risiko yang Wajib Dipahami

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:01 WIB

NPL Kredit Konsumer Bank Besar Naik, Ini Dampaknya bagi Nasabah dan Investor

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:31 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 18 Agustus 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar Lengkap Semua Kadar Karat

Senin, 17 Agustus 2026 - 07:31 WIB

Harga Emas Perhiasan 17 Agustus 2026: 23 Karat Naik Tajam, Ini Daftar Lengkapnya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Asuransi Lansia 2026: 4 Pilihan Proteksi Kesehatan untuk Orang Tua, Cek Usia Masuk dan Risikonya Sebelum Beli

Berita Terbaru