JAMBI,JS- Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Sungai Gelam Muaro Jambi kembali menjadi perhatian serius. Kobaran api melanda kawasan Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, dan berdampak pada sekitar 170 hektare lahan.
Kebakaran berlangsung sejak 5 Agustus hingga 12 Agustus 2026. Luas area yang terdampak menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi petugas dalam mengendalikan api, terutama karena lokasi kebakaran berada pada kawasan lahan gambut.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan strategi khusus. Petugas tidak hanya perlu menghadapi kobaran api yang terlihat di permukaan, tetapi juga harus mengantisipasi potensi penyebaran api melalui area lahan yang mudah terbakar.
Kapolres Muaro Jambi AKBP Bayu Noormansyah menyampaikan bahwa aparat bersama sejumlah unsur terkait sudah melakukan penanganan sejak pekan sebelumnya.
Menurut Bayu, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 170 hektare.
“Luasnya sekitar 170-an hektare yang terdampak,” kata Bayu, seperti dikutip dari laporan JambiUpdate.
Karhutla Terjadi di Kawasan Lahan Gambut
Lokasi kebakaran menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Muaro Jambi.
Kawasan yang terbakar berada di lahan gambut. Selain itu, area tersebut juga memiliki vegetasi berupa tanaman sawit, nanas, dan semak belukar.
Karakteristik lahan seperti itu dapat membuat proses pemadaman menjadi lebih kompleks. Petugas harus memastikan api tidak kembali menyala setelah titik api yang terlihat berhasil mereka padamkan.
Dalam kondisi tertentu, api pada kawasan gambut dapat bergerak atau bertahan di bagian bawah permukaan. Karena itu, proses penanganan tidak cukup hanya dengan melihat kobaran api yang muncul di atas tanah.
Petugas perlu memperhatikan kondisi sekitar sekaligus mengantisipasi munculnya titik api baru.
Faktor tersebut menjadi salah satu alasan mengapa peatland fire atau kebakaran lahan gambut mendapat perhatian besar dalam isu lingkungan dan mitigasi bencana.
Petugas Gabungan Turun ke Lokasi
Penanganan karhutla di Sungai Gelam melibatkan berbagai unsur.
Polres Muaro Jambi bersama Polda Jambi, BPBD, TNI, dan masyarakat melakukan upaya pemadaman di kawasan terdampak.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran dengan cakupan lahan yang cukup luas.
Petugas melakukan pemadaman sekaligus penyekatan area. Strategi ini bertujuan menghambat pergerakan api sehingga kebakaran tidak semakin meluas ke kawasan lain.
Kapolres Muaro Jambi menjelaskan bahwa aparat sudah bergerak sejak pekan lalu.
“Polres, Polda bersama BPBD, TNI dan juga dibantu masyarakat telah berupaya untuk melakukan pemadaman,” ujar Bayu.
Selain pemadaman, petugas juga melakukan penyekatan untuk melokalisasi penyebaran api dan asap.
Luas 170 Hektare Jadi Perhatian
Angka sekitar 170 hektare menunjukkan skala kebakaran yang cukup besar.
Luas tersebut tentu menjadi perhatian karena kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan vegetasi. Karhutla juga dapat menimbulkan asap dan mengganggu kualitas lingkungan apabila kebakaran terus berkembang.
Karena itu, pengendalian api menjadi prioritas.
Semakin luas area yang terbakar, semakin besar pula kebutuhan sumber daya untuk melakukan pemadaman dan pengawasan. Petugas juga perlu memastikan area yang sudah mereka tangani tidak kembali memunculkan titik api.
Kondisi ini membuat proses penanganan karhutla membutuhkan koordinasi berkelanjutan antara aparat, pemerintah daerah, petugas kebencanaan, serta masyarakat.
Api dan Asap Perlu Dilokalisasi
Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada api.
Asap juga menjadi bagian penting yang perlu mendapat perhatian. Ketika kebakaran berlangsung di area dengan vegetasi cukup rapat, asap dapat muncul dalam jumlah besar dan mengganggu kondisi lingkungan sekitar.
Karena itu, upaya lokalisasi kebakaran memiliki peran penting.
Dengan membuat penyekatan, petugas berupaya membatasi area yang dapat dijangkau api. Langkah tersebut juga membantu petugas memusatkan proses pemadaman pada kawasan tertentu.
Strategi seperti ini menjadi bagian dari mitigasi bencana ketika petugas menghadapi kebakaran lahan dengan area terdampak luas.
Mengapa Lahan Gambut Rawan Terbakar?
Lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tanah mineral biasa.
Gambut terbentuk dari akumulasi material organik yang berlangsung dalam waktu panjang. Ketika kondisi lahan mengalami kekeringan, material tersebut dapat menjadi sangat mudah terbakar.
Api pada kawasan gambut juga membutuhkan penanganan lebih hati-hati. Kebakaran dapat menyebar melalui lapisan organik dan menimbulkan titik panas yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Kondisi tersebut membuat pencegahan karhutla menjadi jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul.
Pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran, kesiapsiagaan masyarakat, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.
Masyarakat Punya Peran Penting
Penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada aparat.
Masyarakat di sekitar kawasan rawan kebakaran juga memiliki peran besar dalam mencegah munculnya titik api baru.
Masyarakat dapat membantu dengan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan, terutama ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Jika menemukan indikasi kebakaran, masyarakat juga perlu segera melaporkannya kepada petugas terkait. Laporan lebih awal dapat membantu petugas bergerak sebelum api berkembang menjadi lebih besar.
Dalam kasus Sungai Gelam, masyarakat ikut membantu aparat dalam proses penanganan kebakaran.
Keterlibatan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan forest fire membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.
Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Api
Karhutla sering kali hanya terlihat sebagai persoalan kebakaran.
Namun, dampaknya dapat menyentuh berbagai sektor. Kebakaran lahan dapat memengaruhi lingkungan, aktivitas masyarakat, hingga kualitas udara apabila menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Pada kawasan gambut, persoalannya juga berkaitan dengan ekosistem yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan.
Karena itu, pencegahan menjadi strategi utama.
Masyarakat, pemerintah daerah, perusahaan, aparat keamanan, dan lembaga kebencanaan perlu membangun kesadaran bersama mengenai risiko kebakaran hutan dan lahan.
Penanganan Harus Berlanjut Setelah Api Padam
Salah satu tantangan dalam menangani karhutla adalah memastikan api benar-benar padam.
Petugas perlu melakukan pemantauan terhadap area yang sebelumnya terbakar. Titik panas yang tersisa dapat kembali memicu kebakaran jika kondisi mendukung.
Karena itu, proses penanganan tidak berhenti ketika kobaran api sudah tidak terlihat.
Pengawasan dan pendinginan area menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran kembali berkembang.
Dalam konteks kebakaran lahan gambut, kewaspadaan tersebut semakin penting karena karakteristik material organik di dalam tanah dapat membuat api bertahan lebih lama.
Pemerintah dan Aparat Perlu Memperkuat Mitigasi
Kasus karhutla Muaro Jambi 2026 juga menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana.
Mitigasi tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Langkah tersebut perlu berjalan sejak sebelum musim rawan kebakaran.
Pemetaan kawasan rawan, pengawasan lapangan, kesiapan personel, peralatan pemadam, serta edukasi masyarakat dapat membantu mengurangi risiko.
Selain itu, koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, masyarakat, dan pihak lain perlu terus berjalan.
Semakin cepat suatu titik api terdeteksi, semakin besar peluang petugas mengendalikan kebakaran sebelum area terdampak bertambah luas.
170 Hektare Menjadi Alarm Serius
Kebakaran yang berdampak pada sekitar 170 hektare lahan di Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, menjadi perhatian serius dalam penanganan karhutla di Muaro Jambi.
Petugas gabungan sudah melakukan pemadaman dan penyekatan sejak pekan lalu. Aparat juga terus berupaya melokalisasi penyebaran api dan asap agar kebakaran tidak meluas.
Kondisi lahan gambut membuat penanganan membutuhkan kewaspadaan ekstra.
Karena itu, pengawasan tetap menjadi bagian penting setelah proses pemadaman berlangsung. Masyarakat juga memiliki peran untuk membantu mencegah munculnya titik api baru.
Dengan luas area terdampak yang mencapai sekitar 170 hektare, kasus ini menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan membutuhkan penanganan cepat, koordinasi kuat, serta pencegahan yang konsisten.
Penanganan karhutla bukan hanya tentang memadamkan api hari ini. Upaya tersebut juga berkaitan dengan menjaga lingkungan, mengurangi risiko asap, melindungi masyarakat, dan mencegah kebakaran serupa kembali terjadi.(*)










